Jumat, 06 Agustus 2021

Bab 3 - Syarah Masail Jahiliyah

شرح مسائل الجاهلية

لفضيلة الشيخ الدكـتور صلح بن فوزان بن عبد الله الفوزان

 

اعتبارهم مخالفة ولي الأمر فضيلة

Mereka Menganggap Bahwa Menyelisihi Pemerintah (ولي الأمر) Merupakan Kefadholan (keutamaan), 


وطاعته والانقياد له ذلة ومهانة

Sedangkan Taat dan Patuh Merupakan Perbuatan yang Hina


المسألة الثالثة

Masalah Ketiga




[إن مخالفة ولي الأمر وعدم الانقياد له فضيلة، والسمع والطاعة له ذل ومهانة، فخالفهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأمر بالسمع والطاعة لهم والنصيحة، وغلظ في ذلك وأبدى وأعاد.

Menyelisihi pemerintah (ولي الأمر) dan tidak patuh merupakan suatu kefadholan (keutamaan), sedangkan mendengar dan taat merupakan perbuatan yang hina. Maka Rasulullah menyelisihi mereka dan menyuruh untuk mendengar dan taat serta memberikan nasehat kepada mereka. Beliau mempertegasnya, menampakkannya serta mengulangi perintahnya.
 

وهذه المسائل الثلاث هي التي جمع بينها فيما صح عنه في الصحيح أنه قال: "إن الله يرضى لكم ثلاثاً: أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئاً، وأن تعتصموا بحبل الله جميعاً ولا تفرقوا، وأن تناصحوا من ولاه الله أمركم" (رواه مسلم). ولم يقع خلل في دين الناس ودنياهم إلا بسبب الإخلال في هذه الثلاث أو بعضها].

 
Ketiga masalah ini terkumpul dalam hadits yang shahih bahwa Rasulullah bersabda : "Sesungguhnya Allah meridhoi 3 (tiga) hal bagi kalian, yaitu : kalian beribadah kepadanya dan tidak mneyekutukannya dengan suatu apapun, kalian berpegang teguh dengan tali (agama) Allah semuanya dan tidak bercerai berai, serta kalian saling menasehati para pemegang urusan kalian (pemerintah) [HR. Muslim]". Tidaklah ada keburukan dalam agama atau dunia manusia melainkan disebabkan kesalahan dalam 3 ( tiga ) hal ini atau sebagiannya..
 
 

الشــرح

Penjelasan
 

من مسائل الجاهلية: أنهم لا يخضعون لولي الأمر، ويرون أن هذا ذلة، ومعصية الأمير يعتبرونها فضيلة وحرية؛ ولذلك لا يجمعهم إمام، ولا يجمعهم أمير؛ لأنهم لا يخضعون، وعندهم أنفة وكبر.

Diantara masalah kaum Jahiliyah yaitu mereka tidak tunduk kepada pemerintah dan mereka melihat ini adalah perbuatan yang hina serta tidak tunduk kepada pemerintah merupakan suatu kefadholan (keutamaan) dan kebebasan. Oleh karena itu, mereka tidak disatukan oleh imam, tidak disatukan oleh pemimpin karena mereka tidak menurut, mereka memiliki sifat yang keras dan sombong.

فجاء الإسلام بمخالفتهم وأمر بالسمع والطاعة لولي الأمر المسلم؛ لما في ذلك من المصالح، قال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ} [النساء : ٥٩] فأمر بطاعة ولاة الأمور، والرسول صلى الله عليه وسلم حدد ذلك في غير المعصية، فقال: "لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق"  وقال: "إنما الطاعة في المعروف" ، فتجب طاعة ولي الأمر في غير معصية الله، إذا أمر بمعصية فلا يطاع، لكن لا يخالف في بقية الأمور، لا يطاع في هذه المسألة خاصة التي فيها معصية، أما بقية الأمور فلا ينتقض بيعته بسبب ذلك، ولا يخالف، ما دام أنه على الإسلام؛ لما في طاعة ولاة الأمور من اجتماع الكلمة، وحقن الدماء، واستتاب الأمن، وإنصاف المظلوم من الظالم، ورد الحقوق إلى أصحابها، والحكم بين الناس بالعدل، حتى ولو كان ولي الأمر غير مستقيم في دينه، حتى ولو كان فاسقاً، ما لم يصل إلى الكفر، كما قال صلى الله عليه وسلم: "اسمعوا وأطيعوا، إلا أن تروا كفراً بواحاً عندكم عليه من الله برهان" ، فما دامت معاصيه دون الكفر، فإنه يُسمع له ويطاع، وفسقه على نفسه، لكن ولايته وطاعته لمصلحة المسلمين.

Maka Islam datang menyelisihi mereka dan menyuruh untuk mendengar dan taat kepada pemerintah muslim, karena di dalamnya terdapat kemashlahatan. Allah berfirman : " Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. ". (QS. an-Nisa :59 ). Maka Allah memerintahkan untuk mentaati pemerintah, dan Rasululllah memberikan syarat hal ini dalam perkara yang bukan perkara maksiat. Beliau bersabda : " Tidak ada ketaatan bagi manusia dalam perkara maksiat kepada Allah ". Dan beliau juga bersabda : " Keta'aan hanyalah pada perkara yang ma'ruf ( baik ) ". Maka wajib mentaati pemerintah dalam perkara yang bukan bermaksiat kepada Allah, jika menyuruh kepada kemaksiatan maka jangan ditaati, tapi jangan ditentang dalam perkara yang lain. Tidak ditaati pada perkara khusus ini saja yang ada kemaksiatannya. Adapun perkara yang lainnya  maka jangan lepas baiat karena hal tersebut dan tidak ditentang selama dia beragama Islam. Karena dalam mentaati pemerintah mempersatukan kalimat, melindungi nyawa, menjaga keamanan, memperlakukan pihak yang terzalimi dengan adil dari pihak yang zalim, mengembalikan hak-hak kepada yang berhak, menegakkan hukum dengan adil di kalangan rakyat. Bahkan jika pemerintah tidak istiqamah dalam agamanya, bahkan jika ia fasik, selama ia belum kufur. Sebagaimana sabda Rasulullah : " Dengarlah dan taatilah kecuali kalian melihat kekufuran yang terang-terangan, dengan kondisi kalian memiliki dalil dari Allah atasnya ".  Maka selama kemaksiatannya belum sampai pada kekufuran maka ia didengar dan ditaati, kefasikannya tanggung jawabnya, namun kepemimpinannya dan ketaatan kepadanya untuk kemashlahatan kaum muslimin.

ولهذا لما قيل لبعض الأئمة: إن فلاناً فاسق لكنه قوي، وإن فلاناً صالح لكنه ضعيف، أيهما يصلح للولاية؟ قال: الفاسق القوي؛ لأن فسقه على نفسه، وقوته للمسلمين. أما هذا الصالح فإن صلاحه لنفسه وضعفه يضر المسلمين.

Dan oleh karena itu, ketika ditanyakan kepada sebagian para imam : " sesungguhnya si fulan fasik akan tetapi dia kuat, dan si fulan shalih tapi dia lemah, mana diantara keduanya yang paling baik untuk menjadi pemimpin ? " ia menjawab : " Oang yang fasik dan kuat, karena kefasikannya hanya untuk dirinya, dan kekuatannya untuk kaum muslimin. Adapun orang yang shalih ini, maka keshalihannya hanya untuk dirinya sedangkan kelemahannya membahayakan kaum muslimin ". 

فيُسمع له ويطاع وإن كان فاسقاً في نفسه، بل وإن جار وإن ظلم، يقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أطع وإن أخذ مالك وضرب ظهرك" ؛ لأن في طاعته مصلحة أرجح من المفسدة التي هو عليها، ولأن مفسدة الخروج عليه أعظم من مفسدة البقاء على طاعته وهو عاص؛ لأن في الخروج عليه سفكاً للدماء وإخلالاً بالأمن وتفريقاً للكلمة.

Maka, ia didengar dan ditaati meskipun ia fasik pada dirinya, bahkan jika ia lalim dam zalim. Rasulullah bersabda : " Taatlah kepadanya meskipun ia mengambil hartamu dan memukul punggungmu ". Karena ketaatan kepadanya lebih jelas kemashlahatannya daripada kemudharatannya, karena kerusakan dalam melawannya lebih besar daripada tetap mentaatinya meskipun dia bermaksiat. Karena melawannya akan menyebabkan pertumpahan darah, mengacaukan keamanan dan mencerai berai persatuan.

وماذا حصل للذين خرجوا على الأمراء وولاة الأمور مما قصه التاريخ؟ ماذا حصل لما إن نازغةً من الشذاذ في عهد عثمان رضي الله عنه قاموا وشقوا عصا الطاعة وقتلوا أمير المؤمنين عثمان؟ ماذا حصل على المؤمنين من النكسات إلى الآن؛ بسبب الخروج على أمير المؤمنين وقتله؟ فلا يزال المسلمون يعانون من النكسات المتوالية والمفاسد، وكذلك في حق بقية الولاة الصبر على طاعته وإن كان فيه مفسدة جزئية أخف من مفسدة الخروج عليه؛ فلذلك أوجب النبي صلى الله عليه وسلم طاعته ما لم يخرج عن الإسلام، ولو كان فاسقاً، ولو كان ظالماً، فإنه يصبر على هذه المفاسد الجزئية؛ درءًا للمفسدة العظيمة، وارتكاب أخف الضررين لدفع أعلاهما، هذا شيء معروف. وما من قوم خرجوا على إمامهم إلا كانت المفسدة في الخروج عليه أعظم من المفسدة في الصبر على طاعته.

Dan apa yang terjadi pada orang-orang yang melawan para pemimpin dan pemerintah dalam sejarah ? apa yang terjadi ketika pemberontak yang melakukan perlawanan pada masa Utsman bin Affan radhiyallahu'anhu, mereka berdiri dan memecahkan tongkat ketaatan dan membunuh amirul mukminin Utsman ? apa yang didapat kaum mukminin dari kemunduran sampai sekarang disebabkan melawan amirul mukminin dan membunuhnya ? kaum muslimin terus menerus didera kemunduran dan kerusakan. Demikian pula hak para pemimpin yang lainnya harus bersabar dalam mentaatinya meskipun ada kerusakan parsial padanya lebih ringan daripada kerusakan akibat melawannya. Oleh karena itu, Nabi r mewajibkan untuk mentaatinya selama ia tidak keluar dari agama Islam meskipun ia fasik, meskipun ia zalim, harus sabar terhadap kerusakan yang parsial ini demi menghindari kerusakan yang lebih besar, dan mengambil madharat yang lebih ringan untuk menghindari madharat diatasnya, inilah perkara ma'ruf. Tidak ada suatu kaum yang melawan pemimpinnya melainkan pasti kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada kerusakan dalam bersabar untuk mentaatinya.


وهذا فرق ما بين أهل الجاهلية: وأهل الإسلام في مسألة ولاة الأمور، أهل الجاهلية لا يرون الطاعة لولاة الأمور، ويرون ذلك ذلة. وأما الإسلام: فإنه أمر بطاعة ولاة الأمور المسلمين، وإن كان عندهم شيء من الفسق في أنفسهم، أو عندهم ظلم للناس، يصبر عليهم؛ لأن في ذلك مصالح للمسلمين، وفي الخروج عليهم مضار للمسلمين أعظم من المفاسد التي في البقاء على طاعتهم مع انحرافهم الذي لا يخرجهم عن الإسلام، هذه القاعدة العظيمة التي جاء بها الإسلام في هذا الأمر العظيم. وأما أهل الجاهلية – كما سبق – لا يرون انعقاد ولاية، ولا يرون سمعاً ولا طاعة، ومثلهم الأمم الكافرة الآن، الذين يقولون بالحريات والديمقراطيات، ماذا تكون مجتمعاتهم الآن؟ همجية، بهيمية، قتل وسلب وفساد أعراض، وشر واضطراب أمن، وهم دول كبرى، وعندهم أسلحة، وعندهم مدمرات، لكن حالتهم حالة بهيمية – والعياذ بالله – لأنهم باقون على ما كانت عليه الجاهلية.

Inilah perbedaan antara kaum Jahiliyah dan umat Islam dalam masalah pemerintah. Kaum Jahiliyah tidak mentaati pemerintah dan mereka menganggap hal tersebut adalah kehinaan. Adapun umat Islam diperintahkan untuk menataati pemerintah kaum muslimin, meskipun dalam diri mereka terdapat kefasikan atau ia zhalim kepada rakyat, maka harus bersabar terhadapnya, karena padanya terdapat kemashlahatan bagi kaum muslimin. Melawan mereka akan menimbulkan kemudharatan yang lebih besar terhadap kaum muslimin daripada tetap mentaati mereka meskipun ada penyimpangan pada diri mereka yang tidak mengeluarkan mereka dari Islam. Ini adalah kaidah yang agung yang dibawa oleh Islam dalam masalah yang besar ini. Adapun Jahiliyah – sebagaimana telah lalu – mereka tidak melihat sikap taat pada pemimpin, tidak mau mendengar dan taat, seperti mereka itu umat-umat orang kafir sekarang ini yang menyerukan kebebasan dan demokrasi. Apa yang terjadi di masyarakat mereka sekarang ini ? kekejaman, sifat buas, pembunuhan, perampokan, pelanggaran kehormatan, keburukan, gangguan keamanan, padahal Negara mereka besar, mereka punya senjata, mereka punya senjata penghancur, namun kondisi mereka seperti hewan – na'udzubillah – karena mereka tetap dalam kondisi Jahiliyah..


وأمر النبي صلى الله عليه وسلم بالسمع والطاعة لهم، وأمر بالنصيحة لهم سراً، بينهم وبين الناصح. وأما الكلام فيهم وسبهم واغتيابهم؛ فهذا من الغش لهم؛ لأنه يؤلب الناس عليهم ويفرح أهل الشر، وهذا من الخيانة لولاة الأمور. أما الدعاء لهم وعدم ذكر معائبهم في المجالس، فهو من النصيحة لهم، ومن كان يريد أن ينصح الإمام فإنه يوصل النصيحة إليه في نفسه، إما مشافهة، وإما كتابة، وإما بأن يوصى له من يتصل به ويبلغه عن هذا الشيء؛ وإذا لم يتمكن فهو معذور.

Nabi r juga memerintahkan kepada mereka untuk mendengar dan ta'at, memerintahkan kepada mereka untuk memberikan nasehat secara diam-diam antara mereka dengan yang memberi nasehat. Adapun membicarakan mereka, mencela dam mengghibah mereka, maka ini termasuk pengkhianatan terhadap mereka, karena akan memprovokasi rakyat terhadap mereka dan menyenangkan orang-orang buruk, ini merupakan pengkhiatan terhadap pemerintah. Adapun mendoakan mereka dan tidak menyebut-nyebut kekurangan mereka di majlis-majlis maka hal itu termasuk nasehat bagi mereka. Dan siapa saja yang hendak menasejati pemimpin maka ia sampaikan nasehatnya itu secara pribadi, bisa berbicara langsung atau tertulis, atau bisa menitipkan nasehatnya kepada seseorang untuk disampaikan kepadanya, dan jika tidak memungkinkan maka dia dimaafkan.


أما أنه يجلس في المجالس أو على المنابر أو أمام أشرطة ويسب ولاة الأمور ويعيبهم، فهذا ليس من النصيحة، وإنما هو من الخيانة لولاة الأمور، والنصيحة لهم تشمل الدعاء لهم بالصلاح، وتشمل ستر عيوبهم وعدم إفشائها على الناس، وكذلك من النصيحة لهم: القيام بالأعمال التي يكلونها إلى الموظفين، ويعهدون بها إلى الولاة في القيام بها، هذا من النصيحة لولاة الأمور.

Adapun duduk di majlis atau berdiri di mimbar atau di depan rekaman kaset dan mencela pemerintah maka ini bukanlah nasehat, akan tetapi ini khianat terhadap pemerintah. Nasehat terhadap pemerintah mengandung do'a yang baik bagi mereka serta meliputi menutup aib-aib mereka dan tidak menyebarkannya kepada manusia. Termasuk nasehat bagi mereka juga adalah melakukan tugas-tugas yang diwakilkan kepada para karyawannya, dan para karyawan mengikrarkan tugas tersebut pada pemimpin, ini termasuk nasehat kepada pemerintah.


ثم قال الشيخ رحمه الله:

Kemudian Syaikh rahimahullah berkata : 

وهذه المسائل الثلاث هي التي جمع بينها فيما صح عنه في الصحيح أنه قال: "إن الله يرضى لكم ثلاثاً: أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئاً، وأن تعتصموا بحبل الله جميعاً ولا تفرقوا، وأن تناصحوا من ولاه الله أمركم" . ولم يقع خلل في دين الناس ودنياهم إلا بسبب الإخلال في هذه الثلاث أو بعضها.

Inilah 3 (tiga) hal yang shahih yang diriwayatkan dari Nabi dalam sabdanya : " Sesungguhnya Allah meridhai 3 (tiga) hal bagi kalian, yaitu : kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, kalian berpegang teguh dengan tali (agama) Allah semuanya dan tidak berecerai berai, serta kalian saling menasehati para pemegang urusan kalian ( pemerintah ) ". Dan tidak pernah terjadi permaslahan dalam agama dan dunia manusia kecuali disebabkan masalah yang ada pada perkara tersebut atau pada sebagiannya.


يقول الشيخ رحمه الله: وقد جمع النبي صلى الله عليه وسلم هذه المسائل الثلاث، يعني: التي تقدّم ذكرها وهي:

Syaikh rahimahullah berkata : Nabi telah merangkum 3 (tiga) masalah ini, yang telah disebutkan di atas, yaitu :


المسألة الأولى: أن أهل الجاهلية كانوا يعبدون الأولياء والصالحين، ويقولون: {وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ} [يونس : ١٨] .

Masalah pertama : Bahwa kaum Jahiliyah dahulu mereka menyembah para wali dan orang-orang shalih. Mereka mengatakan : " …dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah ". ( QS. Yunus : 18 ).


والمسألة الثانية: أن أهل الجاهلية كانوا متفرقين في دينهم ودنياهم.

Masalah kedua : Bahwa kaum jahiliyah dahulu bercerai berai dalam agama dan dunia mereka.

 

والمسألة الثالثة: أنهم لا يخضعون لولي الأمر، ويرون ذلك ذلة ومهانة. هذه المسائل الثلاث جمعها رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي أوتي جوامع الكلام وفصل الخطاب في كلمة واحدة، وذلك في قوله صلى الله عليه وسلم: "إن الله يرضى لكم ثلاثاً: أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئاً، وأن تعتصموا بحبل الله جميعاً ولا تفرقوا، وأن تناصحوا من ولاه الله أمركم" .

Masalah ketiga : bahwa kaum Jahiliyah tidak taat kepada pemerintah, dan mereka melihat hal ini sebagai sesuatu yang hina dan penghinaan. Inilah 3 ( tiga ) masalah yang dihimpun Rasulullah SAW yang telah diberikan kalimat yang padat dan perincian kata dalam satu kalimat, yaitu dalam sabdanya : " Sesungguhnya Allah meridhai 3 (tiga) hal bagi kalian, yaitu : kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, kalian berpegang teguh dengan tali (agama) Allah semuanya dan tidak berecerai berai, serta kalian saling menasehati para pemegang urusan kalian ( pemerintah ) " .
 

 الأولى: أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئاً، ويدخل في الشرك عبادة الأولياء والصالحين.

Pertama : beribadah kepadanya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun. Dan termasuk dalam kesyirikan adalah menyembah para wali dan orang-orang shalih.

الثانية: أن تعتصموا بحبل الله جميعاً ولا تفرقوا، عكس ما كان عليه أهل الجاهلية من أنهم كانوا متفرقين في دينهم ودنياهم، وحبل الله هو القرآن، والاعتصام به هو أن تتمسكوا به، فتعملوا بما أمركم به، وتجتنبوا ما نهاكم عنه؛ لأن القرآن هو المنهج الرباني الكفيل بمصالح العباد في دينهم ودنياهم، فالتمسك به رحمة، وعدم التمسك به عذاب وشقاء.

Kedua : agar berpegang teguh kepada agama Allah semuanya dan tidak berpecah belah, bertolak belakang dengan sikap kaum Jahiliyah dahulu yaitu mereka bercerai berai dalam agama dan dunia mereka. Tali Allah adalah al-Qur'an, dan I'tisham dengannya yaitu berpegang teguh dengannya, mempelajari apa yang diperintahkan kepadamu dan menjauhi apa yang dilarangkan kepadamu, karena al-Qur'an adalah manhaj rabbani yang menjamin kemashlahatan hamba dalam dunia dan agama mereka. Maka berpegang teguh dengan al-Qur'an merupakan rahmat dan tidak memegang teguh al-Qur'an merupakan adzab dan kesulitan.

الثالثة: أن تناصحوا من ولاّه الله أمركم، وهذا بخلاف ما كان عليه أهل الجاهلية الذين لا ينقادون لولي الأمر، وهذا فيه الأمر بالانقياد لولي الأمر، ومناصحته وطاعته، وعدم الخروج عليه، وعدم الكلام فيه أما الناس وذكر عيوبه بين الناس، لأن هذا من الخيانة لولي الأمر، ليس هذا من النصيحة، وإن كان بعض الناس يزعم أن هذه نصيحة، فهذه ليست نصيحة، وإنما هذا تشهير وشر، وإلقاء للعداوة بين الوالي والرعية، وليس فيه مصلحة أبداً، بل هو مضرة محضة.

Ketiga : saling menasehati pempimpin urusan kalian. Hal ini betolak belakang dengan sikap kaum Jahiliyah dahulu yang tidak patuh kepada pemetintah. Dalam hal ini ada perintah untuk patuh kepada pemerintah, menasehati mereka dan mentaatinya, tidak melawannya, tidak membicarakannya di hadapan manusia, tidak menyebutkan aib-aibnya serta tidak menyebarkannya pada khalayak ramai, karena hal ini termasuk pengkhianatan kepada pemerintah, ini bukan menasehati, meskipun sebagian orang mengkalim hal tersebut sebagai nasehat, ini bukan nasehat, akan tetapi menyebarkan keburukan, menebarkan permusuhan antara pemerintah dan rakyat, dan tidak ada kemashlahatan sedikitpun di dalamnya, bahkan hal tersebut hanyalah kemudharatan semata.

ثم بيّن – رحمه الله – أن الخلل الذي يقع في دين الناس ودنياهم، إنما سببه الإخلال بهذه الثلاث أو الإخلال ببعضها وهو الشرك بالله، والتفرق، والخروج على ولي الأمر..


Kemudian Syaikh Muhammad – rahimahullah – menjelaskan bahwa masalah yang ada dalam agama dan dunia manusia adalah disebabkan adanya masalah dalam 3 perkara tersebut atau pada sebagian dari 3 ( tiga ) perkara tersebut, yaitu menyekutukan Allah, bercerai berai dan melawan pemerintah..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar