هذه حالة أهل الجاهلية من كتابيين وأميين، لا يجمعهم دين، وعندهم حزبيات { كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ} [الروم: ٣٢] وهذا من تمام العقوبة والابتلاء؛ كون الإنسان يفرح بما هو عليه من الباطل، كان الواجب العكس، وأن الإنسان يخاف من الضلال، ويخاف من الانحراف، ويخاف من الهلاك، لكن هؤلاء بالعكس {كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ} [الروم: ٣٢] دون النظر إلى كون ما هو عليه حقاً أو باطلاً، المهم أنها نِحْلَةُ آبائهم وأجدادهم وقومهم وعشيرتهم، ولا فرح الإنسان بالباطل، فهذه عقوبة؛ لأنه إذا فرح بالباطل فلن يتحول عنه.
Inilah kondisi kaum Jahiliyah dari ahli kitab dan Ummiyun, agama mereka tidak mempersatukan mereka, mereka memiki partai-partai. "… Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan merek ". ( QS. ar-Ruum : 31 – 32 ). Dan ini termasuk adzab dan ujian yang lengkap, disaat manusia gembira dengan keberadaannya dalam kebatilan, padahal yang wajib adalah sebaliknya, seharusnya manusia takut dari kesesatan, takut dari penyimpangan, takut dari kebinasaan, akan tetapi mereka malah sebaliknya : "… Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan merek ". ( QS. ar-Ruum : 31 – 32 ). Tanpa melihat kepada sisi kebenaran dan kebatilan, yang penting adalah ajaran nenek moyang mereka, kaumnya dan keluarganya, tidak penting bagi mereka hak atau batil, ini merupakan musibah dan ujian jika manusia gembira dengan kebatilan maka ini adzab; karena jika ia gembira dengan kebatilan maka tidak akan berubah darinya.
هذه صفة أهل الجاهلية، والله جل وعلا نهانا عن ذلك، فقال تعالى: {وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً} [الروم: ٣١-٣٢] وقال تعالى: {إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ} [الأنعام : ١٥٩] ، وأنزل على رسوله {) شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ} [الشورى : ١٣] هذا هو الذي شرعه الله، إقامة الدين الذي هو دين نوح وإبراهيم وموسى وعيسى ومحمد، صلى الله وسلم عليهم أجمعين، وهو دين الأنبياء جميعاً، لكن ذكر هؤلاء ؛ لأنهم أفضل الرسل وأولو العزم، الخمسة، نوح وإبراهيم وموسى وعيسى ومحمد – صلى الله وسلم عليهم –هم أولو العزم وأفضل الرسل، وأخذ الله وسلم عليهم - هم أولو العزم وأفضل الرسل، وأخذ الله ميثاق من جميع الرسل ، وعلى الخصوص على هؤلاء الخمسة، قال تعالى: {وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقاً غَلِيظاً} [الأحزاب:٧] وجميع الرسل دينهم واحد، وهو عبادة الله وحده لا شريك له، هذا دين جميع الرسل عموماً، والخمسة خصوصاً، لا يقبل الاختلاف ولا التفرق، فلا يكن لكل واحد دين، ولا لكل طائفة دين، وإنما دين الجميع واحد، هو دين الله جل وعلا على جميع الخلق {وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ} [الذاريات : ٥٦] .
Inilah sifat kaum Jahiliyah, dan Allah melarang kita dari hal tersebut. Allah berfirman : "… dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan ". ( QS. ar-Ruum : 31 – 32 ). Allah juga berfirman : " Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat ". ( QS. al-An'am : 159 ). Dan menurunkan kepada Rasulnya : " Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya ". ( QS. asy-Syura : 13 ). Inilah yang disyariatkan oleh Allah, yaitu menegakkan agama, yaitu agama Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad shallallahu'alaihim ajma'in. Ini adalah agama para Nabi semuanya, namun mereka disebut sebagai Rasul-rasul yang paling utama dan mereka adalah Ulul'azmi yang lima: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad shallallahu wasallam 'alaihim. Mereka dalah para rasul ulul'azmi dan rasul-rasul paling utama. Dan Allah mengambil peranjian dari semua rasul, khususnya dari mereka yang lima. Allah berfirman : " Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh ". ( QS. al-Ahzab : 7 ). Dan agama para rasul semuanya sama, yaitu beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, ini adalah agama para Rasul secara umum, dan agama rasul ulul'azmi secara khusus, tidak ada perselisihan maupun perbedaan, tidak ada agama untuk masing-masing rasul, dan tidak ada agama untuk setiap golongan, akan tetapi agama semuanya hanya satu, yaitu agama Allah bagi semua makhluk-Nya; " Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. " ( QS. ad-Dzariyat : 56).
جميع الخلق الجن والإنس يجب أن يكون دينهم واحد، هو التوحيد، وإفراد الله بالعبادة جل وعلا ، والعبادة بينها على ألسن الرسل، ما وكلها إلى الناس ؛ بل أنزل علينا كتاباً وأرسل إلينا رسلاً ، وقال: هذا هو الدين، وهذه هي العبادة. وهي توفيقية ، والدين توقيفي، ليس من حق الناس أن يشرعوا لهم الدين {أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ} [الشورى : ٢١] ، هذا إنكار منه سبحانه وتعالى، عليهم ما شرعه الله، وأنزله في كتبه، وعلى ألسن رسله، عليهم الصلاة والسلام، فهو توقيفي، والرسل إنما هم مبلغون عن الله جل وعلا، يبلغون عن الله ما شرعه لعباده، هذه وظيفة الرسل عليهم الصلاة والسلام، وهم متعبدون بهذا الدين مثل غيرهم، عباد يعبدون الله جل وعلا بهذا الدين الذي شرعه لهم، ولأممهم.
Semua makhluk, jin dan manusia, agama mereka wajib satu, yaitu tauhid dan mengesakan Allah dengan ibadah. Dan ibadah itu telah dijelaskan melalui lisan para rasul, tidak diwakilkan kepada manusia, akan tetapi Allah menurunkan kitab dan mengutus rasul kepada kita, dan rasul itu berkata : " inilah agama itu, dan inilah ibadah itu, dan ibadah bersifat tauqifiyah, dan agama juga bersifat tauqifi, tidak ada hak bagi manusia untuk membuat syariat agama bagi mereka. " Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?...".( QS. asy-Syura:21). Ini adalah pengingkaran dari Allah. Maka agama adalah apa yang disyariatkan Allah dan diturunkan dalan kitab-Nya dan melalui lisan para Rasul-Nya 'alaihimushalatu wassalam. Agama bersifat tauqifi, para Rasul hanyalah penyampai dari Allah . Mereka menyampaikan syariat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, inilah tugas para Rasul 'alaihimushalatu wassalam. Para Rasul juga wajib beribadah dengan agama ini seperti yang lainnya. Para RAsul juga adalah hamba-hamba yang beribadah kepada Allah dengan agama yang disyariatkan kepada mereka dan kepada umat-umat mereka.
وقال سبحانه وتعالى: {وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ} [آل عمران : ١٠٥] هذا نهي لنا نكون مثل أن نكون مثل أهل الجاهلية الذين تفرقوا في دينهم واختلفوا، ولم يكن هذا عن جهل منهم، وإنما هو عن هوى {مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ} تركزا البينات واتبعوا الهوى، فالذي حملهم على هذا التفرق هو الهوى-؛ والعياذ بالله- اتخذوا أهواءهم آلهة من دون الله عز وجل، والله جل وعلا لم يترك حجة لأحد، أرسل الرسل وأنزل الكتب {قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدىً فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ} [البقرة : ٣٨-٣٩] .
Allah berfirman : " Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat ". (QS. ali Imran : 105 ). Ini adalah larangan agar kita tidak seperti kaum Jahiliyah yang mencerai beraikan agamanya dan berselisih. Ini bukan dari kebodohan mereka, akan tetapi karena hawa nafsu; "sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka ". Mereka meninggalkan bayinat ( keterangan ) dan mengikuti hawa nafsu, yang menjadikan mereka berselisih adalah mereka menjadikan hawa nafsu – kita berlindung kepada Allah – sebagai sembahan-sembahan selain Allah azza wajalla, dan Allah tidak membiarkan seorangpun untuk berdalih, Dia telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab; " Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya ". (QS. al-Baqarah : 28 – 39 ).
فالله جل وعلا ما ترك الناس، منذ أن أهبط آدم إلى الأرض، لم يترك الناس بلا دين وبلا نبي؛ بل ما زال جل وعلا يرسل الرسل متتابعة، ويشرع للناس الدين ويبينه لهم، إلى أن ختمهم بمحمد صلى الله عليه وسلم، الذي لا تنسخ ملته حتى تقوم الساعة، ومدادها الكتاب والسنة، فما فيه وقت من الأوقات إلا وهناك دين لله جل وعلا جاءت به الرسل، {وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلا فِيهَا نَذِيرٌ} [فاطر : ٢٤] ، {رُسُلاً مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ} [النساء : ١٦٥] ليس لأحد حجة {أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلا نَذِيرٍ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ} [المائدة : ١٩] فالله جل وعلا أقام الحجة على الخلق.
Maka Allah tidak membiarkan manusia sejak menurunkan Adam ke muka bumi, tidak membiarkan manusia tanpa agama dan Nabi, bahkan Allah terus mengutus para Rasul secara berturut-turut dan mensyariatkan agama bagi manusia dan menjelaskannya kepada mereka, hingga ditutup oleh Muhammad yang ajarannya tidak akan terhapus hingga hari kiamat, dan penopangnya adalah al-Qur'an dan as-Sunnah. Tidak ada satu masa pun dari sekian sama melainkan di sana ada agama Allah yang dibawa oleh para Rasul, "...Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan ". ( QS. Fathir : 24 ). " (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu ". (QS. an-Nisa : 165 ). Tidak ada seorangppun yang bisa berdalih. " Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari'at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: "Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan". Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu ". (QS. al-Maidah : 19 ). Karena Allah telah menegakkan hujah atas makhluknya.
لكن أهل الجاهلية خالفوا ما جاءت به الرسل، لا عن جهل، وإنما هو عن عناد واتباع للهوى، خصوصاً اليهود والنصارى فهم على علم بذلك؛ ولذلك سماهم أهل الله أهل الكتاب، من باب العيب عليهم، أنهم أهل كتاب وأهل علم، ومع هذا يخالفون أمر الله سبحانه وتعالى، ويتبعون أهواءهم. نهى الله هذه الأمة أن تسلك هذا المسلك الجاهلي، وأمرهم أن يتمسكوا بالدين الذي أنزله على رسوله صلى الله عليه وسلم، والذي سار عليه صحابة الرسول صلى الله عليه وسلم، وخلفاؤه الراشدون، هذا هو الدين الذي يجب أن تتمسك به الأمة إلى أن تقوم الساعة، وإذا اختلفوا في شيء أن يردوه إلى الكتاب والسنة {فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ} [النساء : ٥٩] .
Akan tetapi kaum jahiliyah menyelisihi apa yang dibawa oleh para Rasul, bukan karena kebodohan, akan tetapi karena penentangan dan mengikuti hawa nafsu, khususnya Yahudi dan Nasrani mereka mengetahui hal tersebut, oleh karenanya Allah menyebut mereka sebagai ahli kitab sebagai celaan bagi mereka bahwa mereka ahli kitab dan ahli ilmu namun begitu mereka menyelesihi perintah Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Allah telah melarang umat ini dari mengikuti cara-cara Jahiliyah ini dan memerintahkan mereka agar memegang teguh agama yang diturunkan kepada Rasulullah dan kepada apa yang dijalankan oleh para sahabat Rasulullah serta khulafa Rasyidin. Inilah agama yang wajib dipegang oleh umat hingga hari kiamat tiba. Jika mereka berselisih dalam suatu hal maka mereka harus mengemabalikannya kepada al-Qur'an dan as-Sunnah; " Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian ". ( QS. al-Baqarah : 59 ).
والاختلاف من طبيعة البشر، لكن الله جل وعلا أحالنا على الكتاب والسنة إذا اختلفنا ولا ندري أيُّنا المصيب، نرجع إلى الكتاب والسنة، فمن شهد له الكتاب والسنة بأنه حق أخذنا به، وما شهدا أنه غير حق تركناه؛ لأن هدفنا اتباع الحق، لا الانتصار للآراء، أو تعظيم الآباء والأجداد أو الشيوخ، ليس هذا شأن المسلمين، الحق هو ضالة المؤمن؛ أين وجده أخذه، الهدف الحق {ِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ} [النساء : ٥٩] من بقائكم على النزاع {وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً} [النساء : ٥٩] يعني: أحسن عاقبة. وهذا من رحمة الله سبحانه وتعالى لنا ؛ أنه أبقى فينا ما يحل النزاع ويدل على الحق، وهو كتابه، ولهذا قال: {وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ} [آل عمران : ١٠٣] وهو القرآن {جَمِيعاً} ليس بعضكم فقط، بل جميعاً، أي جميع الخلق عموماً، وهذه الأمة خصوصاً {وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا} [آل عمران : ١٠٣] {شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّار} دين الجاهلية {فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا} [آل عمران : ١٠٣] أنقذكم بالإسلام، وبهذا القرآن، فاشكروا نعمة الله عز وجل. والاعتصام بحبل الله هو الاعتصام بالكتاب؛ لأن الكتاب هو حبل الله الممدود الذي من تمسك به نجا، ومن أفلت منه هلك.
Perselisihan merupakan tabiat manusia, akan tetapi Allah memberikan rujukan al-Qur'an dan as-Sunnah jika kita berselisih dan kita tidak tahu siapa yang benar, kita kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Siapa yang menurut al-Qur'an dan as-Sunnah dinyatakan benar maka kita terima, dan siapa yang dinayatakan tidak benar menurut al-Qur'an dan as-Sunnah maka kita tinggalkan; karena tujuan kita adalah mengikuti kebenaran bukan membela pendapat atau mengagungkan nenek moyang atau para syaikh, bukan ini urusan kaum muslimin. Kebenaran adalah senjata seorang mukmin dimana saja ia mendapatkannya ia ambil, tujuannya adalah kebenaran; " jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudin. Hal itu lebih baik bagi kalian " ( QS. an-Nisa : 59 ), daripada kalian tetap dalam perselisian; " Dan lebih baik akibatnya ". (QS. an-Nisa : 59 ). Yakni hasil yang terbaik. Ini merupakan sebuah rahmat dari Allah kepada kita, yakni menetapkan solusi perselisihan bagi kita, yaitu kitab-Nya. Oleh karena itu, Allah berfirman ( dalam surat ali Imran : 103 ): " dan berpeganglah kalian kepada tali Allah.." yaitu al-Qur'an, {جَمِيعاً}" semuanya ", bukan sebagian kalian saja, tapi semuanya, yakni semua manusia secara umum dan umat Islam ini secara khusus; "…dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya ". " di tepi jurang neraka ", yakni agama Jahiliyah. " lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya "; yakni Allah menyelamatkan kalian dengan Islam dan dengan al-Qur'an. Maka syukurilah nikmat Allah dan berpegang teguhlah dengan tali Allah yaitu berpegang teguh dengan al-Qur'an; karena al-Qur'an adalah tali Allah yang dibetangkan, barangsiapa berpegangan kepadanya maka ia selamat dan barangsiapa melepaskannya maka ia binasa.
هذا ما قصّه علينا من حالة أهل الجاهلية: أنهم {فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ} [الروم : ٣٢] ، ثم نهانا عن ذلك، نهانا أن نتشبه بهم، ثم أمرنا بالاعتصام بكتابه الذي هو أمان من الاختلاف وأمان من النزاع والهلاك، فلا نجاة إلا بالاعتصام بكتاب الله جل وعلا، وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم {وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا} [آل عمران : ١٠٣] ، فأهل الجاهلية متفرقون في دينهم، كما قال تعالى: {كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ} [الروم : ٣٢] مسرورون بمذهبهم، وإن كان باطلاً. وكذلك كانوا متفرقين في دنياهم؛ لأن من ضيع الدين ضيع الدنيا، فكانوا في دنياهم متفرقين لا يجمعهم جماعة؛ بل كل قبيلة تحكم نفسها بنفسها، وكل قبيلة تستبيح دماء القبيلة الأخرى وأموالها.
Inilah yang dikisahkan kepada kita tentang kondisi kaum Jahiliyah, bahwa mereka; " yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka ". ( QS. ar-Ruum : 32 ). Maka kaum Jahiliyah bercerai berai dalam agama mereka, sebagaimana firman Allah : " Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka ". ( QS. ar-Ruum : 32 ). Mereka gembira dengan golongan-golongan mereka meskipun batil. Oleh karena itu mereka bercerai berai dalam agama mereka; karena barangsiapa yang menghilangkan agama maka hilanglah dunianya. Mereka bercerai berai dalam dunia mereka, tidak disatukan oleh jama'ah, bahkan setiap kabilah menghukumi dirinya masing-masing, dan setiap kabilah menghalalkan darah dan har golongan lain.
هذه حالة العرب قبل بعثة الرسول صلى الله عليه وسلم، لما ضيعوا دينهم ضيعوا دنياهم، وصار الخوف والقلق والجوع ملازماً لهم دائماً، وكانت الجاهلية كلها حروب، وكلها غارات وثارات، حتى الإخوة يتقاتلون في الجاهلية، فالأوس والخزرج في المدينة هم أخوة من ناحية النسب، قبيلة واحدة قحطانية، لكن قامت بينهم حرب طاحنة استمرت أكثر من مائة سنة، يسمونها "حرب بعاث" بين الأوس والخزرج، وكان اليهود يوقدونها، فلما بعث الله نبيه محمداً صلى الله عليه وسلم، وهاجر إلى المدينة، جمعهم الله به، وطفئت الحروب، وتآخى المسلمون، وصاروا يداً واحدة مع الرسول صلى الله عليه وسلم، وهذا ما ذكَّرهم الله به {وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً} [آل عمران : ١٠٣] ألف الله بين قلوبهم بالإسلام، وانطفأت الحروب التي بينهم، وصلحت دنياهم كذلك بقية قبائل العرب لما دخلوا في الإسلام، صلحت دنياهم لما صلح دينهم، وأمنوا على دمائهم وأموالهم، وصاروا يسيرون في الأرض آمنين، وصار العربي يلقى العربي الآخر من أي قبيلة فلا يعرض له بسوء؛ بل سادت المحبة بينهم، تآخوا في دين الله عز وجل.
Inilah kondisi bangsa Arab sebelum Rasul diutus, ketika mereka menghilangkan agama mereka maka mereka pun menghilangkan dunia mereka, dan ketakutan, kekhawatiran, kelaparan menyertaii mereka selamanya. Kaum Jahiliyah semuanya berperang, semuanya berseteru dan saling membunuh, bahkan sesame saudara saling membunuh pada masa Jahiliyah. Aus dan Khazraj di Madinah, mereka adalah saudara dari sisi nasab, kabilah yang sama, yaitu Qahthaniyah, namun terjadi peperangan sengit antara mereka lebih dari seratus tahun yang mereka sebut dengan Perang Bu'ats antara Aus dan Khazraj, dan kaun Yahudi yang mengobarkannya. Tatkala Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad dan hijrah ke Madinah lalu Allah menyatukan mereka dan perangpun padam, kemudian kaum muslimin saling bersaudara dan menjadi satu tangan bersama Rasulullah, dan inilah yang diingatkan Allah kepada mereka dalam firman-Nya: "dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk ". (QS. ali Imran : 103 ). Allah menyatukan hati mereka dengan Islam dan padamlah peperangan diantara mereka dan baiklah kehidupan dunia mereka. Demikian pula kabilah-kabilah arab ketika mereka masuk ke dalam agama Islam, dunia mereka menjadi baik ketika agama mereka baik, dan mereka aman, baik nyawa maupun harta, mereka pun berjalan di muka bumi dengan aman, dan penduduk arab ketika berpapasan dengan penduduk arab dari kabilah lain ia tidak menampakkan keburukan kepadanya, bahkan rasa cinta menyelimuti mereka, mereka saling bersaudara dalam agama Allah azza wajalla..
وقوله: {إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ} [الأنعام : ١٥٩] هذه براءة من الذين فرقوا دينهم وكانوا شيعاً، أي: أحزاباً؛ لأن المطلوب أن يكون الدين واحداً، وأن يكون الناس جماعة واحدة على الدين، هذا هو الذي أمر الله به سبحانه وتعالى، فمن كان كذلك فالرسول صلى الله عليه وسلم يواليه، وهو وليه، أما من فَرَّق دينه وبقي على النزاع، وبقي على أمر الجاهلية، فالرسول بريء منه.
Dan firman-Nya : " Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka ". (QS.al-An'am : 159 ). Ayat ini adalah pemutusan hubungan dari orang-orang yang mencerai beraikan agama mereka dan bergolong-golongan, yakni berpartai-partai; karena yang wajib adalah agama harus satu, dan manusia harus bersatu dalam agama, inilah yang diperintahkan Allah. Maka barangsiapa seperti ini maka Rasul menolongnya dan dia adalah wali-Nya. Adapun orang yang mencerai beraikan agamanya dan tetap dalam pertikaian dan tetap dalam perkara Jahiliyah maka Rasulullah berlepas diri darinya.
يبقى أن نعرف حقيقة الاختلاف، أو الخلاف، في المسائل الفقهية. فالخلاف واقع وموجود الآن في أمور الفقه، فهل هذا من الاختلاف المذموم ؟
Tinggal kita ingin mengetahui hakikat perselisihan, atau perbedaan dalam masalah fikih. Perbedaan sekarang terjadi dan ada dalam masalah fikih, apakah perbedaan ini tercela ?
نقول: الاختلاف على قسمين :
Kita katakan : perbedaan terbagi kedalam dua jenis :
القسم الأول: الاختلاف في الدين، كالاختلاف في العبادة والعقيدة، وهذا اختلاف مذموم ومحرم؛ لأن الدين ليس مجالاً للاجتهاد، وليس مجالاً للآراء، بل الدين توقيفي، والعقيدة توقيفية، لا مجال للاجتهاد فيها، علينا أن نتمسك بما شرعه الله لنا من الدين ومن العقيدة، دون أن نتدخل بآرائنا واجتهاداتنا، كذلك العبادة توقيفية؛ ما جاءنا به دليل علمنا به، وما ليس عليه دليل فإنه بدعة يجب علينا تركه؛ لحديث: "من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد"، وحديث: "وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار" ، فأمور العقيدة وأمور العبادة وأمور الدين عموماً لا مجال للخلاف فيها أبداً، وإنما تتبع فيها النصوص من الكتاب والسنة، وما كان عليه سلف هذه الأمة.
Jenis pertama : perbedaan dalam agama, misalnya perbedaan dalam ibadah dan akidah. Maka ini perbedaan yang tercela dan haram, karena agama bukan ranah ijtihad dan bukan ranah untuk pendapat, akan tetapi agama bersifat tauqifi dan akidah juga bersifat tauqifiyah tidak ada ruang ijtihad di dalamnya. Kita wajib berpegang teguh dengan agama dan akidah tanpa memasukkan pendapat dan ijtihad kita. Demikian pula ibadah, bersifat tauqifiyah; apa yang kita ketahui ada dalilnya maka kita amalkan ibadah tersebut, dan apa yang tidak ada dalilnya maka itu bid'ah yang wajib kita tinggalkan, berdasarkan hadits : " barangsiapa mengada-ada dalam urusan ( syariat ) kami yang tidak ada asalnya darinya maka ia tertolak ". Dan juga berdasarakan hadits : " dan tinggalkanlah oleh kalian urusan-urusan baru (mengada-ada dalam urusan agama) karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesa, dan semua kesesatan di dalam neraka ". Jadi, masalah akidah, ibadah dan agama secara umum tidak ada celah perselisihan di dalamnya selamanya, akan tetapi dalam masalah tersebut mengikuti nash-nash dari al-Qur'an dan as-Sunnah serta apa yang dilakukan oleh para pendahulu umat ini.
القسم الثاني: الاختلاف فيما للرأي فيه مجال، أو ما هو مسرح للاجتهاد من مسائل الفقه، واستنباط الأحكام من الأدلة، هذا يقع فيه الاختلاف؛ لأن مدارك الناس تختلف في الاستنباط من النصوص، ومسائل الإجماع محصورة، ولا يجوز مخالفتها. لكن ما ليس عليه إجماع من المسائل الاجتهادية التي هي مجال للاجتهاد فالله جل وعلا أعطى كل عالم بحسب ما خصه به من المدارك والفهم، وما يصل إليه من النصوص، والاجتهاد مشروع في ذلك، وقد حصل الاجتهاد في عهده صلى الله عليه وسلم كما هو معروف، فهذا اختلاف في الاجتهاد، وليس اختلافاً في العقيدة ولا في الدين، وإنما هو اختلاف في مسائل الفقه، وكان الناس في عهد النبي صلى الله عليه وسلم يجتهدون ويختلفون. وهذا الاجتهاد على قسمين :
Jenis kedua: perselisihan yang di dalamnya ada ranah untuk berpendapat atau masalah yang dibolehkan untuk ijtihad di dalamnya dari permasalahan fikih dan mengambil kesimpulan hukum dari dalil-dalil, ini boleh ada di dalamnya perselisihan, karena pengetahuan manusia berbeda dalam mengambil kesimpulan hukum dari nash, sedangkan masalah Ijma' (konsensus) terbatas tidak boleh menyelisihinya. Akan tetapi adalam masalah yang tidak ada Ijma (konsensus ulama) dalam masalah ijtihadiyah yang memang merupakan masalah ijtihadiyah maka Allah memberikan setiap ulama sesuai kapasitas keilmuwannya dan sesuai kemampuannya sampai pada kesimpulan dari sebuah nash, maka ijtihad disyariatkan dalam hal itu. Ijtihad telah ada pada zaman Rasulullah seperti sudah diketahui, perselisihan ini dalam ranah ijtihad dan bukan perselisihan dalam akidah dan bukan dalam masalah agama. Akan tetapi perselisihan dalam masalah fikih. Kaum muslimin pada zaman Rasulullah berijtihad dan berselisih pendapat, dan ijtihad ini terbagi ke dalam dua jenis :
قسم ظهر الدليل مع أحد الطرفين المختلفين فيه فيجب أخذ ما عليه الدليل، وترك ما لم يقم عليه الدليل، فتعرض آراء الفقهاء على الدليل، فما دل عليه الدليل وجب الأخذ به وترك ما خالفه، ويجب على المجتهد الذي لم يوفق للصواب وخالف الدليل أن يقبل الحق ويرجع إلى الصواب، ولا يجوز له الاستمرار في الاجتهاد الخاطئ، ولا يجوز لنا أن نتبعه على الاجتهاد الخاطئ، والأئمة يوصوننا بهذا ويقولون: اعرضوا أقوالنا على الكتاب والسنة، فالإمام أبو حنيفة رحمه الله يقول: "إذا جاء الحديث عن الرسول صلى الله عليه وسلم فعلى الرأس والعين، وإذا جاء الحديث عن صحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم فعلى الرأس والعين، وإذا جاء الحديث عن التابعين فنحن رجال وهم رجال". هذا كلام الإمام أبي حنيفة، أقدم الأئمة الأربعة.
Pertama ; dalil nampak pada salahsatu pendapat, maka wajib mengambil pendapat yang berdasar pada dalil dan meninggalkan pendapat yang tidak berdasar pada dalil, maka pendapat para ahli fikih dicocokkan dengan dalil. Pendapat yang sesuai dengan dalil wajib diambil dan yang menyelesihinya ditinggalkan. Dan wajib bagi mujtahid yang tidak menemukan kebenaran dan menyelisihi dalil untuk menerima yang hak dan kembali kepada kebenaran. Tidak boleh baginya terus menerus dalam ijtihad yang salah, dan kita tidak boleh megikutinya dalam ijtihad yang salah. Para imam dalam hal ini berwasiat kepada kita , mereka berkata: " sesuaikan perkataan kami dengan al-Qur'an dan as-Sunnah". Dan Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata : " Jika datang hadits dari Rasulullah maka ambil dengan mata dan kepala ( seutuhnya tanpa berfikir), dan jika hadits datang dari para tabi'in maka kita laki-laki dan mereka pun laki-laki (bisa berfikir )". Ini perkataan Imam Abu Hanifah, imam tertua diantara imam yang empat.
والإمام مالك رحمه الله يقول: "كلنا راد ومردود عليه إلا صاحب هذا القبر" يعني: رسول الله صلى الله عليه وسلم، ويقول رحمه الله: "أو كلما جاءنا رجل أجدل من رجل، تركنا ما نزل به جبريل على محمد لجدل هؤلاء؟! " هذا كلام الإمام مالك رحمه الله.
Imam Malik rahimahullah berkata : " Kita semua bisa menolak dan tertolak kecuali ahli kubur ini ", yakni Rasulullah. Beliau juga berkata : " Apakah setiap ada seseorang lebih pintar berdebat dari yang lain, lantas kita meninggalkan apa yang turun bersama Jibril kepada Muhammad karena kehebatan argumen mereka ?! ". ini perkataan Imam Malik rahimahullah.
ويقول رحمه الله: "لا يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها"، ما هو الذي أصلح أولها؟ الكتاب والسنة. وهذا كلام الإمام مالك رحمه الله.
Dan beliau rahimahullah berkata : " Akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa awal umat ini menjadi baik ". Apa yang menjadikan awal umat ini baik ? yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah. Ini perkataan Imam Malik rahimahullah.
والإمام الشافعي رحمه الله يقول: "أجمع المسلمون على أن من استبانت له سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، لم يكن له أن يدعها لقول أحد"، ويقول رحمه الله: "إذا خالف قولي قول رسول الله صلى الله عليه وسلم، فاضربوا بقول عرض الحائط"، ويقول رحمه الله: "إذا صح الحديث فهو مذهبي". هذه كلمات الشافعي رحمه الله.
Imam Syafi'i rahimahullah berkata : " Kaum muslimin bersepakat bahwa barangsiapa telah jelas baginya sunnah Rasulullah maka tidak boleh meninggalkannya demi perkataan seseorang ". beliau juga berkata : " Jika pendapatku menyelisihi sabda Rasulullah maka buanglah perkataanku ke dinding ". beliau juga berkata : " Jika sebuah hadits itu shahih maka itu madzhabku ". Inilah pendapat-pendapat Imam Syafi'I rahimahullah .
والإمام أحمد رحمه الله يقول: "عجبت لقوم عرفوا الإسناد وصحته، يذهبون إلى رأي سفيان! والله تعالى يقول: {فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [النور : ٦٣] أتدري ما الفتنة؟ الفتنة الشرك، لعله إذا ردَّ بعض قوله – يعني رسول الله صلى الله عليه وسلم – أن يقع في قلبه شيء من الزيغ فيهلك".
Imam Ahmad rahimahullah berkata : " Saya heran dengan orang-orang yang mengetahui sanad dan shahihnya sanad tapi mereka mengambil pendapat Sufyan ! dan Allah ta'ala berfirman : " Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih". ( QS. an-Nuur : 63 ). Apakah kamu tahu apa itu fitnah ? fitnah adalah syirik, jika ia menolak sebagian hadits Rasulullah akan tumbuh dalam hatinya penyimpangan bisa jadi kemudian ia binasa ".
إذاً، هذه أقوال الأئمة المجتهدين، اجتهدوا عن علم وعن أهلية للاجتهاد، لكن لم يدَّعوا لأنفسهم العصمة، بل أوصوا أن يؤخذ من أقوالهم ما وافق الدليل، فيجب على الحنبلي إذا رأى الدليل مع الشافعي أن يأخذ بقول الشافعي، وواجب على الشافعي إذا رأى الدليل مع الحنفي أن يأخذ بقول الحنفي، وواجب على المالكي إذا رأى الدليل مع الحنبلي أن يأخذ بقول الحنبلي؛ لأن الغرض هو اتباع الدليل، ليس الغرض قول فلان ولا فلان، فلا يتعصبون لأئمتهم، وإنما يتعصبون للدليل فقط. وهذا شيخ الإسلام ابن تيمية والإمام ابن القيم والإمام محمد بن عبد الوهاب كلهم يأمرون بهذا ويقولون: انظروا في أقوال العلماء، فخذوا ما قام عليه الدليل. وكلامهم في هذا معلوم من كتبهم.
Jadi, inilah perkataan para imam mujtahid, mereka berijtihad berdasarkan ilmu dan keahllian mereka untuk berijtihad, namun mereka tidak mengkalaim diri mereka ma'shum tapi mereka mewasiatkan agar mengambil perkataan mereka yang sesuai dengan dalil. Maka wajib bagi pengikut Hanbali jika mendapati dalil pada pengikut Syafi'I maka ia harus mengambil pendapat pengikut Syafi'I, wajib bagi pengikut Syafi'i jika mendapati dalil pada pengikut Hanafi maka ia harus mengambil pendapat pengikut Hanafi, wajib bagi yang pengikut Maliki jika mendapati dalil pada pengikut Hanbali maka ia harus mengambil pendapat pengikut Hanbali, karena tujuannya adalah mengikuti dalil, bukanla tujuannya untuk mengikuti pendapat fulan atau fulan, maka mereka jangan fanatik dengan imam-imam mereka, akan tetapi mereka hanya boleh fanatic kepada dalil saja. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim dan Imam Muhammad bin Abdulwahhabm semuanya menyuruh bersikap demikian, mereka berkata : " Lihatlah pada perkataan para ulama, ambilah pendapat yang berada di atas dalil ". Perkataan mereka ini sudah dikenal dari kitab-kitab mereka.
هذا هو مذهب أهل السنة والجماعة، لا تعصب، لكن ليس معنى هذا أن نرفض المذاهب ونتركها؛ بل نستفيد من المذاهب ومن فقه الأئمة؛ لأنه ثروة عظيمة، لكن نتابع الدليل، من كان معه دليل أخذنا بقوله، هذا هو الواجب.
Inilah mazhab Ahlussunnah waljama'ah, tidak fanatik, tapi bukan berarti kita menolak mazhab-mazhab dan meninggalkannya, bahkan kita mengambil faedah dari mazhab dan dari fikih para imam; karena merupakan kekayaan yang sangat besar, namun kita mengamati dalil, barangsiapa memiliki dalil maka kita ambil pendapatnya, inilah yang wajib..
ومن لا يعرف الدليل يسأل أهل العلم، قال تعالى: {فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ} [النحل : ٤٣] ؛ لأنك تريد براءة الذمة، فإذا كنت تعرف، فالحمد لله، خذ بالدليل وإذا كنت لا تعرف تسأل أهل العلم، هذا هو الواجب.
Dan barangsiapa yang tidak tahu dalil hendaklah bertanya kepada ahli ilmu. Allah berfirman : " maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui ". ( QS. an-Nahl : 43 ). Karena anda ingin terbebas dari beban kewajiban, jika anda tahu dalil, alhamdulillah, ambilah dalil, dan jika anda tidak tahu dalil maka bertanyalah kepada ahli ilmu, inilah yang wajib.
القسم الثاني من هذا: الاجتهاد الفقهي ما لم يظهر فيه دليل مع أحد القولين؛ بل كلا القولين محتمل، فهذا لا إنكار في مسائل الاجتهاد، ما دام لم يترجح شيء منها بالدليل، فلا إنكار على من أخذ بقول من الأقوال؛ شريطة ألا يكون عنده تعصب أو هوى، وإنما قصده الحق؛ لذلك لا ينكر الحنبلي على الشافعي، ولا ينكر الشافعي على المالكي، والأئمة الأربعة وأتباعهم إخوة على مدار الزمان، ولله الحمد، ما وقع بينهم عداوات، ولا وقع بينهم حزازات، وإن وقع شيء من ذلك فإنما هو من بعض المتعصبة، الذين لا عبرة بهم، لكن جمهور أصحاب المذاهب الأربعة – والحمد لله – ليس بينهم عداء ولا تفرق ولا حزازات، يتزاوجون، ويصلي بعضهم خلف بعض، ويسلم بعضهم على بعض، ويتآخون، مع أن عندهم اختلاف في بعض المسائل الاجتهادية المحتملة، التي لم يظهر رجحان بعضها على بعض، ومن هنا قالوا الكلمة المشهور: "لا إنكار في مسائل الاجتهاد".
Kedua; Ijtihad fikih jika belum ada kejelasan dalil diantara kedua pendapat; bahkan kedua pendapat masih mengambang, maka dalam hal ini tidak dipungkiri ada permasalahan ijtihad, selama belum ada suatu kejelasan dalil darinya, maka jangan diingkari jika mengambil salah satu pendapat dari beberapa pendapat, dengan syarat jangan ada fanatik dan hawa nafsu, akan tetapi tujuannya adalah mencari kebenaran. Oleh karena itu, Hanbali tidak mengingkari Syafi'I, dan Syafi'I tidak mengingkari Maliki, dan imam yang empat serta pengikutnya adalah saudar sepanjang zaman, alhamdulillah. Tidak terjadi permusuhan antara mereka, tidak pula terjadi antara pertikaian mereka. Jika pun hal itu ada, maka itu dari para pengikut yang fanatik yang tidak perlu ditanggapi. Akan tetapi jumhur ulama mazhab yang empat – alhamdulillah – tidak ada permusuhan antara mereka, tidak ada perpecahan, tidak ada pertikaian, mereka saling memaafkan, saling bermakmum satu sama lain, saling bersalaman satu sama lain, saling bersaudara, meskipun mereka memiliki perbedaan pendapat dalam beberapa masalah ijtihad yang masih rancu yang belum jelas kebenarannya satu sama lain. Dari sini mereka mengatakan ungkapan yang masyhur : " Tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihad ".
فإذا كان أهل بلد على قول من هذه الأقوال الاجتهادية التي لم يظهر ما يخالفها ولا ما يعرضها، مجتمعين على رأي من هذه الآراء الفقهية، فلا يسوغ لأحد أن يفرق هذا الاجتماع، بل ينبغي الوفاق وعدم الاختلاف.
Jika penduduk suatu negeri mengambil salah satu pendapat dari pendapat-pendapat ijtihad yang tidak jelas siapa yang sepakat dan siapa yang menyelisihinya, juga tidak jelas siapa yang bertentangan dengannya, mereka bersatu pada satu pendapat dari pendapat-pendapat fikih, maka tidak boleh seorangpun yang memisahkan persatuan tersebut, bahkan wajib diam dan tidak boleh berselisih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar