Senin, 30 Agustus 2021

Kitab Tauhid - 05 (Mulakhos Syarah kitabu Tauhid)

 الملخص في شرح كتاب التوحيد

لفضيلة الشيخ الدكـتور صلح بن فوزان بن عبد الله الفوزان


كتاب التوحيد


وقوله: {قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا} الآيات [الأنعام : ١٥١، ١٥٣] .


Allah berfirman : "Katakanlah (Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan oleh Tuhan kalian. Bahwa janganlah mempersekutukannya dengan sesuatu apa pun" [Al-An'am : 151,153].

 تعالوا: هلمّوا وأقبلوا.

 
"تعالوا" : artinya kemarilah dan menghadaplah.

أتل: أقصص عليكم وأُخبركم.

 
"أتل" : Artinya menceritakan pada kalian dan mengabari pada kalian.

حرّم: الحرام الممنوع منه، وهو ما يُعاقب فاعله ويثاب تاركه.

 
"حرّم" : Artinya mengharamkan pada yang dilarang, yaitu hukuman bagi yang mengerjakannya dan yang meninggalkannya diberi pahala.
 

الآيات: أي إلى آخر الآيات الثلاث من سورة الأنعام. من قوله: {قُلْ تَعَالَوْا} إلى قوله في ختام الآية الثالثة: {ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}.


"الآيات" : Yaitu sampai tiga ayat terakhir Surat Al-An'am. Dari firman Allah : "Katakanlah (Muhammad), Marilah aku bacakan" sampai di akhir ayat ketiga : :Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa".

المعنى الإجمالي للآية: يأمر الله نبيه أن يقول لهؤلاء المشركين الذين عبدوا غير الله، وحرّموا ما رزقهم الله، وقتلوا أولادهم تقرُّباً للأصنام، فعلوا ذلك بآرائهم وتسويل الشيطان لهم: هلمّوا أقصّ عليكم ما حرّم خالقكم ومالككم تحريماً حقاً لا تخرّصاً وظناً، بل بوحي منه، وأمرٍ من عنده، وذلك فيما وصاكم به في هذه الوصايا العشر، التي هي:

 
Makna keseluruhan dari ayat tersebut : Allah memerintahkan Nabinya agar mengatakan kepada orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah, dan mengharamkan apa-apa yang Allah berikan bagi mereka, dan mereka membunuh anak-anaknya untuk mendekatkan diri pada berhala, Mereka melakukan itu dengan pendapat mereka sendiri dan permintaan Setan dari mereka : Ayo, akun aku ceritakan kepadamu apa yang benar-benar dilarang oleh Pencipta dan Pemilikmu yang benar-benar mengharamkan, tanpa keraguan atau dugaan (persangkaan), bahkan dengan wahyu darinya,  dan perintah darinya, dan itulah yang Dia perintahkan kepadamu dalam Sepuluh Perintah ini, yaitu : 

أولاً: وصاكم ألا تشركوا به شيئاً، وهذا نهيٌ عن الشرك عموماً، فشمل كل مشرك به من أنواع المعبودات من دون الله، وكل مشرك فيه من أنواع العبادة.


Pertama : Memerintahkan kalian untuk tidak mempersekutukan dengannya sesuatupun, dan ini adalah larangan kemusyrikan secara umum, karena mencakup semua jenis penyembah berhala selain Allah, dan setiap perbuatan musyrik adalah bentuk ibadah.

ثانياً: ووصاكم أن تحسنوا بالوالدين إحساناً، ببرهما وحفظهما وصيانتهما وطاعتهما في غير معصية الله، وترك الترفّع عليهما.

 
Kedua : Memerintahkan kalian untuk memperlakukan orang tua Anda dengan baik, dengan menghormati mereka, menjaga mereka, melindungi mereka dan menaati mereka dengan cara selain dari kemaksiatan kepada Allah, dan tidak mendurhakai mereka.

ثالثاً: وصاكم أن لا تقتلوا أولادكم من إملاق، أي لا تئدوا بناتكم، ولا تقتلوا أبناءكم خشية الفقر، فإن رازقكم ورازقهم، فلستم ترزقونهم، بل ولا ترزقون أنفسكم .

 
Ketiga : Memerintahkan kalian untuk tidak membunuh anak-anak kalian karena kemiskinan, yaitu, jangan mengubur hidup-hidup anak perempuan kalian, dan jangan membunuh anak laki-laki Anda karena takut miskin, maka sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada kalian juga Allah memberi rezeki kepada mereka, maka tidak ada kalian yang memberi rezeki kepada mereka, dan bahkan kalian juga tidak mendatangkan rezeki untuk dirimu sendiri .

رابعاً: ووصاكم أن لا تقربوا الفواحش ما ظهر منها وما بطن، أي المعاصي الظاهرة والخفية .

 
Keempat : Memerintahkan kalian untuk tidak mendekati perbuatan maksiat baik yang tampak maupun yang samar, yaitu dosa yang tampak dan yang samar.

خامساً: ووصاكم أن لا تقتلوا النفس التي حرم الله قتلها، وهي النفس المؤمنة والمعاهدة إلا بالحق، الذي يبيح قتلها من قصاص أو زناً بعد إحصان أو ردة بعد إسلام .

 
Kelima : Memerintahkan kalian untuk tidak membunuh pada diri yang Allah telah mengharamkan untuk membunuhnya, yaitu diri yang beriman dan terjaga kecuali dengan hak, yang membolehkan membunuhannya dengan pembalasan (hukum Qishos) atau perzinahan setelah menikah atau kemurtadan setelah Islam.
 

سادساً: ووصاكم أن لا تقربوا مال اليتيم – وهو الطفل الذي مات أبوه - إلا بالتي هي أحسن من تصريفه بما يحفظه، وينَمِّيه له حتى تدفعوه إليه حين يبلغ أشدّه، أي: الرشد وزوال السّفَه مع البلوغ .

 
Keenam : Memerintahkan kalian untuk tidak mendekati pada hartanya anak yatim - anak yang ayahnya meninggal - kecuali dengan cara yang lebih baik daripada membelanjakannya dengan cara menjaganya,  dan mengembangkannya untuknya sampai kalian memberikan kepadanya ketika dia mencapai dewasa. yaitu: dewasa dan berhentinya kebodohan sampai baligh.
 

سابعاً: {وَأَوْفُواْ الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا} أي: أقيموا العدل في الأخذ والإعطاء حسب استطاعتكم .

 
Ketujuh : {Dan sempurna­kanlah takaran dan timbangan dengan adil. tidak memaksakan beban kepada seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya} Yaitu: menegakkan keadilan dalam mengambil dan memberi sesuai dengan kesanggupanmu..
 

ثامناً: {وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُواْ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى} .

 
Kedelapan : {Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil bahkan jika itu adalah kerabat (kalian)}.
 

أمر بالعدل في القول على القريب والبعيد بعد الأمر بالعدل في الفعل .

 
Allah memerintahkan keadilan dalam mengatakan atas dekat dan jauh setelah memerintahkan keadilan dalam perbuatan.
 
 

تاسعاً: {وَبِعَهْدِ اللهِ} أي: وصيته التي وصاكم بها {أَوْفُواْ} ، أي انقادوا لذلك بأن تطيعوه فيما أمر به ونهى عنه، وتعملوا بكتابه وسنة نبيه .

 
Kesembilan : “Dan penuhilah janji Allah” yaitu: perintahnya yang dia perintahkan kepadamu (menetapilah), yaitu, tunduk padanya dengan mematuhi apa yang dia perintahkan dan larangan, dan Dan mengerjakan sesuai dengan kitabnya dan sunnah Nabinya.
 

عاشراً: {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ} .

 
Kesepuluh : {Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalannya}.
 

أي: الذي أوصيتكم به في هاتين الآيتين من ترك المنهيات، وأعظمها الشرك. وفعل الواجبات، وأعظمها التوحيد، هو الصراط المستقيم .

 
Maksudnya : Apa yang aku perintahkan kepada kalian dalam dua ayat ini adalah meninggalkan larangan, yang terbesar di antaranya adalah kemusyrikan, Dan menjalankan kewajiban, yang terbesar adalah tauhid, yang adalah jalan yang lurus.
 

{فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ} البدع والشبهات .

 
{dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain)} bid'ah dan keraguan.
 
 

{فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ} . تميل وتشتت بكم عن دينه .

 
{karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalannya} memalingkan dan mengalihkan kamu dari agamanya.
.
 

مناسبة الآيات للباب: أن الله – سبحانه ذكر فيها جُمَلاً من المحرّمات ابتدأها بالنهي عن الشرك، والنهي عنه يستدعي الأمر بالتوحيد بالاقتضاء، فدل ذلك على أن التوحيد أوجب الواجبات، وأن الشرك أعظمُ المحرمات .

Hubungan ayat ini dengan bab: bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala - menyebutkan di dalamnya kalimat-kalimat yang diharamkan, dimulai dengan larangan kemusyrikan, dan larangannya menyerukan perintah tauhid dengan keharusan, maka itu menunjukkan bahwa tauhid adalah kewajiban yang paling penting, dan bahwa musyrik adalah keharoman terbesar .
 

ما يستفاد من الآيات: .


Apa-apa yang manfaat dari ayat :

١- أن الشرك أعظم المحرمات، وأن التوحيد أوجب الواجبات.

1- Syirik adalah larangan terbesar, dan tauhid adalah kewajiban yang paling penting.

٢- عظم حق الوالدين.

2- Lebih besarnya hak kedua orang tua.


٣- تحريم قتل النفس بغير حق، لا سيما إذا كان المقتول من ذوي القربى.

 
3- Larangan membunuh seseorang secara tidak sah, terutama jika korbannya adalah kerabat.

 

٤- تحريم أكل مال اليتيم، ومشروعية العمل على إصلاحه.

 
4- Larangan memakan harta anak yatim, dan disyariatkannya bekerja untuk memperbaikinya. 
 

٥- وجوب العدل في الأقوال والأفعال على القريب والبعيد.

 
5- Wajibnya berlaku adil dalam perkataan dan perbuatan, baik untuk kerabat maupun orang lain.
 

٦- وجوب الوفاء بالعهد.

6- Kewajiban untuk memenuhi perjanjian. 
 

٧- وجوب اتباع دين الإسلام وترك ما عداه.

 
7- Kewajiban untuk mengikuti agama Islam dan meninggalkan segala sesuatu yang lain.

 

٨- أن التحليل والتحريم حقٌّ لله.

 
8- Menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah.


Senin, 23 Agustus 2021

Bab 5 - Syarah Masail Jahiliyah

شرح مسائل الجاهلية

لفضيلة الشيخ الدكـتور صلح بن فوزان بن عبد الله الفوزان

 

الاحتجاج بما عليه الأكثرون دون نظر إلى مستنده

Berdalil Dengan Pendapat Mayoritas Tanpa Melihat Sumbernya

 

المسألة الخامسة

Masalah Ke Lima

 

[إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ قَوَاعِدِهِم: الاغتِرَارَ بِالأَكْثَرِ، وَيَحْتَجُّونَ بِهِ عَلَى صِحَّةِ الشَّيْءِ، وَيَسْتَدِلُّونَ عَلَى بُطْلاَنِ الشَّيءِ بغُرْبَتِهِ وَقِلَّةِ أَهْلِهِ، فَأَتَاهُمْ بِضِدِّ ذَلِكَ، وَأَوْضَحَهُ فِي غَيْرِ مَوْضِعِ مِنَ القُرْآَنِ] .

 
Sesungguhnya diantara prinsip kaum Jahiliyah yang paling besar adalah tertipu dengan pendapat mayoritas dan berdalil dengannya dalam menilai kebenaran sesuatu, dan berdalil atas kebatilan sesuatu dengan dalih keterasingan dan minoritas pelakunya. Maka Rasulullah datang dengan hal yang sebaliknya dan menjelaskannya dalam banyak ayat-ayat al-Qur'an.

 

 

الشــرح

Penjelasan


من مسائل الجاهلية: أنهم يستدلون بالأكثرين على الحق، ويستدلون بالأقلين على غير الحق، فما كان عليه الأكثر عندهم فهو الحق، وما كان عليه الأقل فهو غير حق، هذا هو الميزان عندهم في معرفة الحق من الباطل. وهذا خطأ؛ لأن الله جل وعلا يقول: {وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ} [الأنعام : ١١٦] ، ويقول سبحانه وتعالى: {وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَْ} [لأعراف : ١٨٧] ، ويقول سبحانه وتعالى: {وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ} [الأعراف : ١٠٢] ، إلى غير ذلك. فالميزان ليس هو الكثرة والقلة؛ بل الميزان هو الحق، فمن كان على الحق –وإن كان واحداً- فإنه هو المصيب، وهو الذي يجب الاقتداء به، وإذا كانت الكثرة على باطل فإنه يجب رفضها وعدم الاغترار بها، فالعبرة بالحق، ولذلك يقول العلماء: الحق لا يعرف بالرجال، وإنما يعرف الرجال بالحق. فمن كان على الحق فهو الذي يجب الاقتداء به.


Diantara masalah Jahiliyah bahwa mereka berdalil dengan pendapat terbanyak dalam menilai kebenaran, dan berdalil dengan pendapat terdikit dalam menilai kebatilan. Maka apa yang menjadi pendapat terbanyak maka itulah yang benar, dan apa yang dipegang minoritas (terdikit) maka itulah yang batil. Adapun ini adalah cara mereka membedakan untuk mengetahui kebenaran dari kebatilan, Dan pemikiran ini salah, karena Allah SWT berfirman : "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)". (QS. al-An'am : 116 ). Dan Allah SWT berfirman : "Dan akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ( berilmu )" ( QS. al-A'raf : 187 ). Allah juga berfirman : "Dan Kami tidak menjumpai pada kebanyakan mereka memenuhi janji. Dan sesungguhnya Kami menjumpai kebanyakan mereka orang-orang yang fasik" (QS. al-A'raf : 102 ). Dan dalil-dalil yang lainnya. Maka tolok ukur bukanlah pada mayoritas (terbanyak) dan minoritas (terdikit). Bahkan tolok ukur berdasarkan pada kebenaran, Maka siapa pun yang berada atas kebenaran - walaupun hanya ada satu orang (sendiri) - maka dia adalah orang yang benar, Dan dialah yang harus ditiru, dan jika mayoritas (terbanyak) ada pada kebatilan maka itu harus ditolak dan tidak tertipu, karena standarnya adalah kebenaran. Oleh karena itu ulama berkata : " Kebenaran tidak dilihat oleh seseorang, akan tetapi orang itu lah yang di ukur oleh kebenaran". Maka barangsiapa berada dalam kebenaran maka dia yang wajib diikuti.

والله جل وعلا – فيما قص عن الأمم – أخبر أن القلة قد يكونون على الحق، كما قال تعالى: {وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ} [هود : ٤٠] وفي الحديث –الذي عرضت فيه الأمم على النبي صلى الله عليه وسلم رأى النبي ومعه الرهط، والنبي ومعه الرجل، والرجلان، والنبي وليس معه أحد. فليست العبرة بكثرة الأتباع على المذهب أو على القول، وإنما العبرة بكونه حقاً أو باطلاً، فما كان حقاً –وإن كان عليه أقل الناس، أو لو لم يكن عليه أحد، ما دام أنه حق –يُتمسك به فإنه هو النجاة. والباطل لا يؤيده كثرة الناس أبداً، هذا ميزان يجب أن يتخذه المسلم دائماً معه.


Allah SWT berfirman berkaitan dengan kisah sebagian umat bahwa minoritas bisa jadi berada di atas kebenaran. Sebagaimana firman Allah : " Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit ". (QS. Hud : 40 ). Dalam sebuah hadits yang di dalamnya diceritakan bahwa telah diperlihatkan kepadanya umat-umat, beliau melihat nabi bersama pengikutnya yang banyak, ada juga Nabi yang pengikutnya hanya satu orang dan dua orang, dan ada pula nabi yang tidak mempunyai pengikut satupun. Maka, tolok ukur bukanlah pada pengikut yang banyak pada sebuah madzhab atau pendapat, dan akan tetapi tolok ukurnya ialah benar atau salah. Maka jika sebuah pendapat benar meskipun orangnya sedikit, atau tidak ada seorangpun di sana, maka selama itu benar ia harus pertahankan maka itulah keselamatan. Adapun kebatilan selamanya tidak bisa diperkuat oleh banyaknya manusia. Inilah tolak ukur yang harus selalu dipegang seorang muslim.


والنبي صلى الله عليه وسلم يقول: "بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ" وذلك حين يكثر الشر والفتن والضلال، فلا يبقى على الحق إلا غرباء من الناس ونزاع من القبائل، يصبحون غرباء في المجتمع البشري، والرسول صلى الله عليه وسلم بعث والعالم كله يموج في الكفر والضلال، ودعا الناس، فاستجاب له الرجل والرجلان، إلى أن تكاثروا. وكانت قريش –وكانت الجزيرة كلها، وكان العالم كله – على الضلال. والرسول صلى الله عليه وسلم وحده يدعو الناس، والذين اتبعوه قليل بالنسبة للعالم.


Rasulullah SAW bersabda : " Islam mulai dengan kondisi asing dan akan kembali asing seperti semula ". Demikian itu ketika sudah banyak keburukan, fitnah dan kesesatan. Maka tidak ada lagi yang berdiri di atas kebenaran selain orang-orang yang terasing dan para pendebat dari setiap golongan. Mereka terasing di masyarakat sosial. Dan Rasulullah SAW diutus ketika alam dalam gelombang kekufuran dan kesesatan, dan beliau mengajak manusia, lalu ada yang menyambutnya satu dua orang hingga bertambah banyak. Saat itu kaum Quraisy, semenanjung Arab semuanya, dan seluruh penjuru dunia semuanya berada dalam kesesatan. Dan Rasulullah SAW mendakwahi manusia hanya sendirian dan yang mengikutinya hanya sedikit dibanding dengan penduduk dunia.

 

فالعبرة ليست بالكثرة، العبرة بالصواب وإصابة الحق. نعم، إذا كانت الكثرة على صواب فهذا طيب، ولكن سنة الله جل وعلا أن الكثرة تكون على الباطل {وما أكثر الناس ولو حرصت بمؤمنين} [يوسف : ١٠٣] {وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ} [الأنعام : ١١٦] .


Maka tolok ukur bukanlah dengan jumlah yang banyak, akan tetapi sesuai dengan kebenaran. Iya, ketika jumlah yang banyak berada dalam kebenaran maka ini baik, akan tetapi sunnatullah bahwa kebanyakan manusia di atas kebatilan. " Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya ". ( QS. Yusuf : 103 ). " Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. ". (QS. al-An'am : 116 ).

Jumat, 20 Agustus 2021

Kitab Tauhid - 04 (Mulakhos Syarah kitabu Tauhid)

 الملخص في شرح كتاب التوحيد

لفضيلة الشيخ الدكـتور صلح بن فوزان بن عبد الله الفوزان


كتاب التوحيد


وقوله: {وَاعْبُدُواْ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا ... } الآية [النساء : ٣٦] .


Dan Allah berfirman : "Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukannya...} [An-Nisa': 36].

 لا تشركوا: اتركوا الشرك، وهو تسوية غير الله بالله فيما هو من خصائص الله.

"لا تشركوا" : maksudnya meninggalkanlah pada kemusyrikan, karena syirik tersebut adalah membuat persamaan tuhan selain Allah dengan Allah didalam apa yang yang menjadi kekhususan Allah..

شيئاً: نكرةٌ في سياق النهي، فتعم الشرك: كبيرَه وصغيره.

"شيئاً" : yaitu Kalimat nakiroh "نكرةٌ" (belum jelas) dalam konteks larangan, maknanya umum mencakup semua jenis kesyirikan, Baik syirik besar maupun syirik kecil.


المعنى الإجمالي للآية: يأمر الله -سبحانه- عباده بعبادته وحده لا شريك له، وينهاهم عن الشرك، ولم يخصّ نوعاً من أنواع العبادة، لا دعاءً ولا صلاةً ولا غيرهما، ليعمّ الأمر جميع أنواع العبادة، ولم يخص نوعاً من أنواع الشرك، ليعم النهي جميع أنواع الشرك.

Makna ayat ini secara global :  Allah SWT telah memerintahkan hambanya untuk beribadah kepadanya semata untuk tidak menyekutukannya, dan melarang mereka dari berbuat syirik, dan tidak mengkhususkan satu jenis dari macam-macam ibadah, tidak berupa do'a, sholat dan tidak pula selain keduanya, karena umumnya perintah untuk semua macam ibadah. Dan tidak pula mengkhususkan satu jenis dari macam-macam syirik, karena umumnya larangan tersebut mengumpulkan macam-macam kesyirikan."

مناسبة الآية للباب: أنها ابتدأت الأمر بالتوحيد والنهي عن الشرك، ففيها تفسير التوحيد بأنه عبادة الله وحده وترك الشرك.


Hubungan ayat ini dengan Bab : Dimulai dengan tauhid dan larangan musyrik, Di dalamnya tafsir tauhid adalah penyembahan kepada Allah semata dan meninggalkan kemusyrikan.

ما يستفاد من الآية:

Apa-apa yang bermanfaat dari ayat :

١- وجوب إفراد الله بالعبادة، لأن الله أمر بذلك أولاً، فهو آكد الواجبات.


1- Kewajiban memurnikan Allah dengan beribadah, karena sesungguhnya Allah memerintahkan itu pertama kali, maka tauhid adalah kewajiban yang paling ditekankan

٢- تحريم الشرك، لأن الله نهى عنه، فهو أشد المحرمات.

2- Diharamkannya syirik, karena Allah melarangnya (pertama kali), maka syirik adalah yang paling sangat keharamannya.


٣- أن اجتناب الشرك شرطٌ في صحة العبادة، لأن الله قرن الأمر بالعبادة بالنهي عن الشرك.

3- Bahwa menjauhi syirik adalah syarat sahnya ibadah, karena Allah menyebutkan perintah ibadah lalu disusul dengan larangan syirik..


٤- أن الشرك حرامٌ قليله وكثيره، كبيره وصغيره، لأن كلمة شيئاً نكرةٌ في سياق النهي، فتعم كل ذلك.

4- Bahwa syirik hukumnya haram baik sedikit maupun banyak, besar maupun kecil, karena kata (شيئاً) ‘sesuatu apa pun’ adalah kata ‘nakirah’ dalam konteks larangan, maka maknanya mencakup segala sesuatu..


٥- أنه لا يجوز أن يشرك مع الله أحدٌ في عبادته، لا ملكٌ ولا نبيٌ ولا صالحٌ من الأولياء ولا صنمٌ؛ لأن كلمة (شيئاً) عامة.

5- Bahwa tidak diperbolehkannya mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Allah, tidak malaikat, nabi, wali maupun patung, karena kata (شيئاً) ‘sesuatu apa pun’ bermakna umum.

Senin, 16 Agustus 2021

Kitab Tauhid - 03 (Mulakhos Syarah kitabu Tauhid)

 الملخص في شرح كتاب التوحيد

لفضيلة الشيخ الدكـتور صلح بن فوزان بن عبد الله الفوزان


كتاب التوحيد


وقوله: {وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا} [الإسراء: ٢٣] الآية .

Dan Allah berfirman : Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.
 

 قضى: أمر ووصّى, والمراد بالقضاء هنا القضاء الشرعيّ الدينيّ، لا القضاء القدريّ الكونيّ.

"قضى" : artinya perintah dan berwasiat, dan yang dimaksud dengan "القضاء" di sini adalah perintah secara syariat dan agama, bukan "القضاء" jenis qodar atau takdir.
 

ربك: الرب هو المالك المتصرف، الذي ربى جميع العالمين بنعمته.

"ربك" : artinya Tuhan yang memiliki dan yang mengatur segala hal, yang telah memelihara seluruh alam dengan nikmatnya.
.

ألا تعبدوا إلا إياه: أي أن تعبدوه ولا تعبدوا غيره.

"ألا تعبدوا إلا إياه" : artinya yaitu agar menyembah pada Allah dan jangan menyembah selain Allah.
 

وبالوالدين إحساناً: أي وقضى أن تحسنوا بالوالدين إحساناً، كما قضى أن تعبدوه، ولا تعبدوا غيره.

"وبالوالدين إحساناً" : artinya yaitu, dan Allah memerintahkan agar kamu berbuat baik kepada orang tua, sebagaimana Allah memerintahkan agar kamu menyembahnya, dan jangan menyembah selain Allah. 
.

المعنى الإجمالي للآية: الإخبار أن الله -سبحانه وتعالى- أمر ووصّى على ألسُن رسله أن يُعبد وحده دون ما سواه، وأن يحسن الولد إلى والديه إحساناً بالقول والفعل، ولا يسيء إليهما؛ لأنهما اللذان قاما بتربيته في حال صِغره وضعفه، حتى قوِي واشتد.

Makna ayat ini secara global: Memberitahukan bahwa Allah yang Maha Suci dan Yang Mahakuasa memerintahkan dan berwasiat melalui lisan (ucapan) Rasulnya agar Allah disembah dengan esanya selain makhluk selain Allah, dan agar anak berbuat baik kepada orang tuanya dengan perkataan dan perbuatan, dan jangan berbuat jelek pada kedua orang tua; Karena merekalah yang membesarkannya ketika dia muda dan lemah, hingga dia kuat dan dewasa.
 

مناسبة الآية للباب: أن التوحيد هو آكد الحقوق وأوجب الواجبات؛ لأن الله بدأ به في الآية، ولا يبتدأ إلا بالأهم فالأهم.

Hubungan ayat ini dengan Bab : bahwa tauhid adalah hak yang paling kuat dan kewajiban yang paling penting; Karena sesungguhnya Allah memulainya dengan tauhid di dalam ayat, dan tidak memulai kecuali dengan yang paling utama (penting), kemudian yang paling utama (penting).


 ما يستفاد من الآية:

Apa-apa yang bermanfaat dari ayat :
 

١- أن التوحيد هو أول ما أمر الله به من الواجبات، وهو أول الحقوق الواجبة على العبد.

1- Sesungguhnya tauhid adalah kewajiban pertama yang diperintahkan Allah, dan tauhid adalah hak pertama yang wajib atas hamba.
 

٢- ما في كلمة (لا إله إلا الله) من النفي والإثبات، ففيها دليلٌ على أن التوحيد لا يقوم إلا على النفي والإثبات: (نفي العبادة عما سوى الله وإثباتها لله) ، كما سبق.

2- Apa-apa yang ada didalam kalimat "لا إله إلا الله" mengandung pengertian "من النفي والإثبات", karena mengandung dalil bahwa tauhid hanya didasarkan pada "على النفي والإثبات": (menyangkal penyembahan dari apa-apa selain Allah dan menetapkan ibadah hanya untuk Allah), seperti yang dijelaskan sebelumnya. 
 

٣- عظمة حق الوالدين حيث عطف حقهما على حقه، وجاء في المرتبة الثانية.

3- Betapa besarnya hak kedua orang tua, karena mengembalikan hak mereka pada haknya, dan itu berada di urutan kedua.
 

٤- وجوب الإحسان إلى الوالدين بجميع أنواع الإحسان، لأنه لم يخص نوعاً دون نوع.

4- Wajibnya berbuat baik kepada orang tua dengan segala macam kebaikan, karena sesungguhnya Allah tidak mengkhususkan pada suatu macam selain macam yang lain.
 

٥- تحريم عقوق الوالدين.

5- Keharomannya menyakiti kepada orang tua.

Jumat, 13 Agustus 2021

Bab 4 - Syarah Masail Jahiliyah

شرح مسائل الجاهلية

لفضيلة الشيخ الدكـتور صلح بن فوزان بن عبد الله الفوزان

 

التقليد الأعمى ومضاره

Taklid Buta dan Bahayanya


المسألة الرابعة

Masalah Ke Empat


[إن دينهم مبني على أصول: أعظمها التقليد، فهو القاعدة الكبرى لجميع الكفار، أولهم وآخرهم، كما قال تعالى: {وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ} [الزخرف: ٢٣] ، وقال تعالى: {وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ} [لقمان: ٢١] ، فأتاهم بقوله: {قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ ... } [سبأ : ٤٦] الآية، وقوله: {اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ} [الأعراف : ٣] .

Sesungguhnya agama mereka dibangun diatas beberapa pondasi, yang paling utama adalah taklid. Taklid merupakan kaidah terbesar bagi semua orang kafir dari awal sampai akhir. Sebagaimana firman Allah : "Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu mengatakan Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka".  (QS. az-Zukhruf : 23 ).  Allah juga berfirman : "Dan ketika dikatakan kepada mereka untuk mengikuti apa yang telah diturunkan oleh Allah, Mereka menjawab bahwa kami (hanya) mau mengikuti apa yang kami jumpai atas bapak-bapak kami, bahkan walaupun syaitan itu mengajak mereka ke dalam siksa api yang membara (neraka)". (QS. Luqman : 21 ). Maka Allah mendatangkan ayatnya : "Katakanlah Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu…". ( QS. Saba : 46 ). Dan firman Allah : "Ikutilah apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Allah. Amat sedikitlah dari kamu mengambil pelajaran (daripadanya) ". (QS. al-A'raf : 3 ).


الشــرح

Penjelasan


من مسائل الجاهلية: أنهم لا يبنون دينهم على ما جاءت به الرسل عليهم الصلاة والسلام، وإنما يبنون دينهم على أصول أحدثوها هم من عند أنفسهم، ولا يقبلون التحول عنها، منها: التقليد، وهو المحاكاة، بأن يقلد بعضهم بعضاً، وإن كان المقلد لا يصلح للقدوة، كما قال سبحانه وتعالى: {وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ} [الزخرف : ٢٣] .


Diantara masalah Jahiliyah bahwasanya mereka tidak membangun agama mereka sebagaimana ajaran yang dibawa oleh para Rasul kepada mereka, akan tetapi mereka membangun agama mereka di atas landasan yang mereka bangun sendiri dan tidak menerima perubahan darinya. Diantara pondasi agama mereka yaitu ; taklid (fanatisme), yaitu hikayat-hikayat yang diikuti antar sesama mereka, meskipun yang diikuti tidak pantas dijadikan panutan. Sebagaiman firman Allah : "Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu kecuali mengatakan bahwa sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka".  (QS. az-Zukhruf : 23 ). 

ومترفوها هم: أهل الرفاهية والمال في الغالب؛ لأنهم أهل الشر وعدم قبول الحق، خلاف الضعفاء والفقراء فإن الغالب عليهم التواضع وقبول الحق. فأهل الترف هم أصحاب الجاه وأصحاب المال {إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا} أي أصحاب المال والجاه فيهم {إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ} [الزخرف : ٢٣] أي: على ملة ودين، وإنا متبعون لهم على دينهم، يعني: لسنا بحاجة إليكم أيها الرسل، يزعمون أن هذا يغنيهم عن اتباع الرسل عليهم الصلاة والسلام، فهذا هو التقليد الأعمى، وهو من أمور الجاهلية.


Orang-orang yang hidup mewah yaitu orang-orang yang sejahtera hidupnya dan banyak harta secara umum, karena mereka orang-orang yang tidak baik dan tidak menerima kebenaran. Berbeda dengan kaum dhuafa dan orang fakir, mayoritas mereka bersikap rendah hati dan menerima kebenaran. Ahlu tarf adalah orang yang memiliki kedudukan dan harta; "melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata"; yakni pemilik harta dan kedudukan; "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu umat"; yakni diatas satu ajaran dan agama dan kami mengikuti mereka dalam agama. Maksudnya: kami tidak membutuhkan kalian wahai para Rasul. Mereka mengira bahwa kondisi kemewahan mereka sudah mencukupi mereka dari mengikuti  para Rasul. Ini merupakan taklid buta yang termasuk masalah Jahiliyah.


أما التقليد في الخير فهذا يسمى اتباعاً واقتداء، قال تعالى عن يوسف عليه السلام: {وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ} [يوسف : ٣٨] .


Adapun taklid dalam kebaikan maka disebut dengan ittiba dan iqtida. Allah berfirman tentang Nabi Yusuf : "Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. yang tidak ada bagi kami (para Nabi) yang melakukan syirik dengan Allah dari sesuatu apapun". ( QS. Yusuf : 38 ).

وقال تعالى: {وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ} .


Dan Allah berfirman : "dan rang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik…". (QS. at-Taubah : 100 ).


ولهذا قال الله تعالى في أهل الجاهلية {وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلا يَهْتَدُونَ} [البقرة: ١٧٠] فالذي لا يعقل ولا يهتدي ليس محلاً للقدوة، إنما القدوة فيمن يعقل ويهتدي، فالتقليد الأعمى من أمور الجاهلية، وهذا يسمى بالتعصب؛ لأن القدوة هو رسول الله صلى الله عليه وسلم ومن اتبعه.


Dan karena ini Allah berfirman berkaitan dengan kaum Jahiliyah : "Dan ketika dikatakan kepada mereka untuk mengikuti apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab bahwa kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) leluhur kami walaupun leluhur mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS. al-Baqarah : 170 ). Maka orang yang tidak berakal dan tidak mengikuti petunjuk maka tidak layak untuk dicontoh. Kepemimpinan hanya bagi orang yang berakal dan mengikuti petunjuk. Maka Taklid buta termasuk masalah Jahiliyah, ini yang disebut dengan fanatic; karena teladan adalah Rasulullah dan orang yang mengikutinya.


ثم قال الشيخ رحمه الله: وقال تعالى: {وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ} [لقمان : ٢١] .


Kemudian Syaikh Muhammad berkata : Allah berfirman : "Dan ketika dikatakan kepada mereka untuk mengikuti apa yang telah diturunkan oleh Allah, Mereka menjawab bahwa kami (hanya) mau mengikuti apa yang kami jumpai atas bapak-bapak kami, bahkan walaupun syaitan itu mengajak mereka ke dalam siksa api yang membara (neraka)". (QS. Luqman : 21 ).


وإذا قيل للمشركين والكافرين {اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ} وهو القرآن {قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ} أي يدعو هؤلاء الآباء {إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ} أتتبعونهم للسعير؟ يعني: تقتدون بآبائكم وإن كانوا من أتباع الشيطان، ومآلهم إلى السعير؟ العاقل يجب أنه ينظر في أمره، وفيمن يقلد.


Dan ketika dikatakan kepada orang-orang musyrik dan orang-orang kafir: {mengikutilah apa yang diturunkan oleh Allah},  yaitu al-Qur'an. {Mereka menjawab bahwa kami (hanya) mau mengikuti apa yang kami jumpai atas bapak-bapak kami, bahkan walaupun syaitan yang mengajak mereka}. maksudnya mengajak mereka mengikuti para bapak-bapak (leluhur) {Menuju siksaan yang membara (neraka)} apakah mereka mau mengikutinya kedalam neraka sa'ir ?" yakni : mereka mengikuti leluhur kalian meskipun mereka pengikut syetan dan tempat terakhir mereka adalah neraka ?. Orang yang berakal wajib memperhatikan masalahnya dan siapa yang diikutinya.


ثم قال الشيخ رحمه الله: فأتاهم بقوله: {قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ} [سبأ : ٤٦] ، وقوله: {اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ} [الأعراف : ٣] .

Kemudian Syaikh berkata : "Maka datang kepada mereka firman Allah : "Katakanlah Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu…". ( QS. Saba : 46 ). Dan Allah berfirman : "Ikutilah apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Allah. Amat sedikitlah dari kamu mengambil pelajaran (daripadanya) ". (QS. al-A'raf : 3 ).


أي: أتاهم رسول الله صلى الله عليه وسلم بهذه الآية، فهم يقولون: نحن نتمسك بما عليه آباؤنا، ولا نطيع هذا الرجل، يعنون محمداً صلى الله عليه وسلم. والله جل وعلا يقول: انظروا وتفكروا فيما قال لكم هذا الرجل، تفكروا، ولا تأخذكم العصبية، {أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى} [ (سبأ : ٤٦] جماعات وفرادى، تنظرون فيما دعاكم إليه محمد صلى الله عليه وسلم، فإن كان حقاً وجب عليكم اتباعه، ولا يجوز لكم البقاء على ما كان عليه الآباء والأجداد.

maksudnya : Rasulullah mendatangi mereka dengan membawa ayat ini, kemudian mereka berkata : "Kami mematuhi apa yang dilakukan nenek moyang kami, dan kami tidak mematuhi orang ini, yaitu Muhammad SAW. Allah berfirman: "Lihat dan pikirkan tentang apa yang dikatakan orang ini kepada Anda, pikirkan, jangah kalian bersikap fanatik; {yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri} secara berkelompok atau sendiri-sendiri, Lihatlah untuk apa Muhammad SAW mengajakmu, Maka jika benar, kalian wajib mengikutinya, dan tidak boleh tetap berada pada agama bapak-bapak dan  nenek moyang kalian.


{أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ} يعني: لا للهوى والعصبية؛ بل يكون قيامكم لله، تريدون الحق {مَثْنَى وَفُرَادَى} اثنين اثنين، يفكرون ويجتمعون، ويعقدون جلسة؛ لأن تعاون الجالسين أو الجماعة فيه رجاء الوصول إلى الحق، أو فرادى، أن يخلو بنفسه ويفكر، ويتأمل ما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم، وسيجد أنه حق فيجب عليه اتباعه، {ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُمْ} يعني محمداً صلى الله عليه وسلم، الذي تقولون: إنه مجنون، وهو ليس به جنون؛ بل هو أعقل الرجال وأعقل الخلق صلى الله عليه وسلم، وأنصح الخلق وأعلم الخلق، عليه الصلاة والسلام، فكيف تقولون: إنه مجنون؟ فكروا، انظروا في عقله، انظروا في تصرفاته، هل هي مثل تصرف المجنون؟ {مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ} [سبأ : ٤٦] إنْ لم تؤمنوا به وتتبعوه، فإنه سيحل بكم العذاب الشديد، فهو جاءكم ناصح لكم، يريد لكم الخير، ويريد لكم النجاة، ويريد لكم الصلاح والفلاح في الدنيا والآخرة، فكيف تصفونه بهذا الوصف، تقولون إنه مجنون، بدون رويّة وبدون تفكر وبدون تأمل لما جاء به؟

أَنْ تَقُومُوا لِلَّ " Maksudnya : tidak untuk permainan dan fanatisme,  bahkan ada hanya untuk menghadap Allah, untuk menghendaki kebenaran {berdua-dua dan sendirian} dua-dua, berdua-dua atau sendiri-sendiri, memikirkan dan berkumpul, mengadakan majlis; agar yang hadir atau jama'ah di majlis saling membantu hingga sampai kepada kebenaran, atau masing-masing duduk menyendiri, berfikir dan mendalami apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dan akan menemukan bahwa itu adalah hak dan dia harus mengikutinya; {Kemudian pikirkan tentang teman Anda} maksudnya adalah Nabi Muhammad, yang kalian sebut sebagai orang gila, padahal ia tidak gila, bahkan ia orang yang paling berakal dan makhluk paling berakal, makhluk paling tulus, paling tahu. Maka bagaimana kalian berkata ia orang gila ? maka berpikirlah, lihat akalnya, lihat perilakunya, apakah dia terlihat seperti orang gila ?, "…tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu bahwa Aku memiliki siksaan yang keras ". ( QS. Saba : 46 ). Jika kalian tidak beriman kepadanya dan tidak mengikutinya maka siksaan yang pedih akan menimpa kalian. Maka ia datang sebagai penasehat bagi kalian, ia menginginkan kebaikan bagi kalian, menginginkan kalian selamat, menginginkan kebaikan dan kemenangan bagi kalian di dunia dan akhirat, maka bagaimana kalian menuduhnya dengan tuduhan seperti ini, kalian mengatakan dia itu gila, tanpa tedeng aling-aling, tanpa berpikir, tanpa mengamati apa yang dia bawa ? .


وهكذا يجب على كل عاقل أن ينظر في أقوال الناس، فيميزها ويفحصها، ويرى الخطأ من الصواب، فيقبل الحق ويرد الخطأ، ولا يحمله التقليد الأعمى على البقاء على الباطل.


Demikian itu wajib bagi orang yang berakal untuk melihat perkataan manusia, memilahnya, memilah yang salah dari yang benar, kemudian terima yang benar dan tolak yang salah, jangalah fanatik buta menjadikannya tetap dalam kebatilan..