شرح مسائل الجاهلية
لفضيلة الشيخ الدكـتور صلح بن فوزان بن عبد الله الفوزان
الاحتجاج بما عليه الأكثرون دون نظر إلى مستنده
Berdalil Dengan Pendapat Mayoritas Tanpa Melihat Sumbernya
المسألة الخامسة
Masalah Ke Lima
[إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ قَوَاعِدِهِم: الاغتِرَارَ بِالأَكْثَرِ، وَيَحْتَجُّونَ بِهِ عَلَى صِحَّةِ الشَّيْءِ، وَيَسْتَدِلُّونَ عَلَى بُطْلاَنِ الشَّيءِ بغُرْبَتِهِ وَقِلَّةِ أَهْلِهِ، فَأَتَاهُمْ بِضِدِّ ذَلِكَ، وَأَوْضَحَهُ فِي غَيْرِ مَوْضِعِ مِنَ القُرْآَنِ] .
Sesungguhnya diantara prinsip kaum Jahiliyah yang paling besar adalah tertipu dengan pendapat mayoritas dan berdalil dengannya dalam menilai kebenaran sesuatu, dan berdalil atas kebatilan sesuatu dengan dalih keterasingan dan minoritas pelakunya. Maka Rasulullah datang dengan hal yang sebaliknya dan menjelaskannya dalam banyak ayat-ayat al-Qur'an.
الشــرح
Penjelasan
من مسائل الجاهلية: أنهم يستدلون بالأكثرين على الحق، ويستدلون بالأقلين على غير الحق، فما كان عليه الأكثر عندهم فهو الحق، وما كان عليه الأقل فهو غير حق، هذا هو الميزان عندهم في معرفة الحق من الباطل. وهذا خطأ؛ لأن الله جل وعلا يقول: {وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ} [الأنعام : ١١٦] ، ويقول سبحانه وتعالى: {وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَْ} [لأعراف : ١٨٧] ، ويقول سبحانه وتعالى: {وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ} [الأعراف : ١٠٢] ، إلى غير ذلك. فالميزان ليس هو الكثرة والقلة؛ بل الميزان هو الحق، فمن كان على الحق –وإن كان واحداً- فإنه هو المصيب، وهو الذي يجب الاقتداء به، وإذا كانت الكثرة على باطل فإنه يجب رفضها وعدم الاغترار بها، فالعبرة بالحق، ولذلك يقول العلماء: الحق لا يعرف بالرجال، وإنما يعرف الرجال بالحق. فمن كان على الحق فهو الذي يجب الاقتداء به.
Diantara masalah Jahiliyah bahwa mereka berdalil dengan pendapat terbanyak dalam menilai kebenaran, dan berdalil dengan pendapat terdikit dalam menilai kebatilan. Maka apa yang menjadi pendapat terbanyak maka itulah yang benar, dan apa yang dipegang minoritas (terdikit) maka itulah yang batil. Adapun ini adalah cara mereka membedakan untuk mengetahui kebenaran dari kebatilan, Dan pemikiran ini salah, karena Allah SWT berfirman : "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)". (QS. al-An'am : 116 ). Dan Allah SWT berfirman : "Dan akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ( berilmu )" ( QS. al-A'raf : 187 ). Allah juga berfirman : "Dan Kami tidak menjumpai pada kebanyakan mereka memenuhi janji. Dan sesungguhnya Kami menjumpai kebanyakan mereka orang-orang yang fasik" (QS. al-A'raf : 102 ). Dan dalil-dalil yang lainnya. Maka tolok ukur bukanlah pada mayoritas (terbanyak) dan minoritas (terdikit). Bahkan tolok ukur berdasarkan pada kebenaran, Maka siapa pun yang berada atas kebenaran - walaupun hanya ada satu orang (sendiri) - maka dia adalah orang yang benar, Dan dialah yang harus ditiru, dan jika mayoritas (terbanyak) ada pada kebatilan maka itu harus ditolak dan tidak tertipu, karena standarnya adalah kebenaran. Oleh karena itu ulama berkata : " Kebenaran tidak dilihat oleh seseorang, akan tetapi orang itu lah yang di ukur oleh kebenaran". Maka barangsiapa berada dalam kebenaran maka dia yang wajib diikuti.
والله جل وعلا – فيما قص عن الأمم – أخبر أن القلة قد يكونون على الحق، كما قال تعالى: {وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ} [هود : ٤٠] وفي الحديث –الذي عرضت فيه الأمم على النبي صلى الله عليه وسلم رأى النبي ومعه الرهط، والنبي ومعه الرجل، والرجلان، والنبي وليس معه أحد. فليست العبرة بكثرة الأتباع على المذهب أو على القول، وإنما العبرة بكونه حقاً أو باطلاً، فما كان حقاً –وإن كان عليه أقل الناس، أو لو لم يكن عليه أحد، ما دام أنه حق –يُتمسك به فإنه هو النجاة. والباطل لا يؤيده كثرة الناس أبداً، هذا ميزان يجب أن يتخذه المسلم دائماً معه.
Allah SWT berfirman berkaitan dengan kisah sebagian umat bahwa minoritas bisa jadi berada di atas kebenaran. Sebagaimana firman Allah : " Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit ". (QS. Hud : 40 ). Dalam sebuah hadits yang di dalamnya diceritakan bahwa telah diperlihatkan kepadanya umat-umat, beliau melihat nabi bersama pengikutnya yang banyak, ada juga Nabi yang pengikutnya hanya satu orang dan dua orang, dan ada pula nabi yang tidak mempunyai pengikut satupun. Maka, tolok ukur bukanlah pada pengikut yang banyak pada sebuah madzhab atau pendapat, dan akan tetapi tolok ukurnya ialah benar atau salah. Maka jika sebuah pendapat benar meskipun orangnya sedikit, atau tidak ada seorangpun di sana, maka selama itu benar ia harus pertahankan maka itulah keselamatan. Adapun kebatilan selamanya tidak bisa diperkuat oleh banyaknya manusia. Inilah tolak ukur yang harus selalu dipegang seorang muslim.
والنبي صلى الله عليه وسلم يقول: "بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ" وذلك حين يكثر الشر والفتن والضلال، فلا يبقى على الحق إلا غرباء من الناس ونزاع من القبائل، يصبحون غرباء في المجتمع البشري، والرسول صلى الله عليه وسلم بعث والعالم كله يموج في الكفر والضلال، ودعا الناس، فاستجاب له الرجل والرجلان، إلى أن تكاثروا. وكانت قريش –وكانت الجزيرة كلها، وكان العالم كله – على الضلال. والرسول صلى الله عليه وسلم وحده يدعو الناس، والذين اتبعوه قليل بالنسبة للعالم.
Rasulullah SAW bersabda : " Islam mulai dengan kondisi asing dan akan kembali asing seperti semula ". Demikian itu ketika sudah banyak keburukan, fitnah dan kesesatan. Maka tidak ada lagi yang berdiri di atas kebenaran selain orang-orang yang terasing dan para pendebat dari setiap golongan. Mereka terasing di masyarakat sosial. Dan Rasulullah SAW diutus ketika alam dalam gelombang kekufuran dan kesesatan, dan beliau mengajak manusia, lalu ada yang menyambutnya satu dua orang hingga bertambah banyak. Saat itu kaum Quraisy, semenanjung Arab semuanya, dan seluruh penjuru dunia semuanya berada dalam kesesatan. Dan Rasulullah SAW mendakwahi manusia hanya sendirian dan yang mengikutinya hanya sedikit dibanding dengan penduduk dunia.
فالعبرة ليست بالكثرة، العبرة بالصواب وإصابة الحق. نعم، إذا كانت الكثرة على صواب فهذا طيب، ولكن سنة الله جل وعلا أن الكثرة تكون على الباطل {وما أكثر الناس ولو حرصت بمؤمنين} [يوسف : ١٠٣] {وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ} [الأنعام : ١١٦] .
Maka tolok ukur bukanlah dengan jumlah yang banyak, akan tetapi sesuai dengan kebenaran. Iya, ketika jumlah yang banyak berada dalam kebenaran maka ini baik, akan tetapi sunnatullah bahwa kebanyakan manusia di atas kebatilan. " Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya ". ( QS. Yusuf : 103 ). " Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. ". (QS. al-An'am : 116 ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar