Kamis, 06 Mei 2021

002. Tafsir Ibnu Katsir : Surat Al-Baqarah - Ayat 18

﴿  صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ ﴾

Mereka tuli, bisu, dan buta; maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).

وهم مع ذلك ( صم ) لا يسمعون خيرا ( بكم ) لا يتكلمون بما ينفعهم ( عمي ) في ضلالة وعماية البصيرة ، كما قال تعالى : ( فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمى القلوب التي في الصدور ) [ الحج : ٤٦ ]

Selain itu mereka "صم", yakni tuli tidak dapat mendengar kebaikan; "بكم", bisu tidak dapat mengucapkan hal-hal yang bermanfaat bagi diri mereka; "عمي", buta dalam kesesatan dan buta mata hatinya, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman Allah: Maka sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, dan akan tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (Al-Hajji: 46).

فلهذا لا يرجعون إلى ما كانوا عليه من الهداية التي باعوها بالضلالة .

Maka karena itu, mereka tidak dapat kembali ke jalan hidayah yang telah mereka tukar dengan kesesatan.

ذكر أقوال المفسرين من السلف بنحو ما ذكرناه :

Komentar para ahli tafsir ulama salaf.

قال السدي في تفسيره ، عن أبي مالك وعن أبي صالح ، عن ابن عباس ، وعن مرة ، عن ابن مسعود ، وعن ناس من الصحابة ، في قوله تعالى : ( فلما أضاءت ما حوله ) زعم أن ناسا دخلوا في الإسلام مقدم نبي الله صلى الله عليه وسلم المدينة ، ثم إنهم نافقوا ، فكان مثلهم كمثل رجل كان في ظلمة ، فأوقد نارا ، فأضاءت ما حوله من قذى ، أو أذى ، فأبصره حتى عرف ما يتقي منه فبينا هو كذلك إذ طفئت ناره ، فأقبل لا يدري ما يتقي من أذى 

As-Saddi di dalam kitab tafsirnya mengatakan dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas'ud serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan firman Allah: "Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya" (Al-Baqarah: 17). As-Saddi menduga ada sejumlah orang yang telah masuk Islam di saat Nabi tiba di Madinah, kemudian mereka munafik. Perumpamaan mengenai diri mereka sama dengan seorang lelaki yang pada mulanya berada dalam kegelapan, lalu dia menyalakan api. Ketika api menerangi sekelilingnya yang dipenuhi kotoran dan onak duri, maka dia dapat melihat hingga dapat menghindar. Akan tetapi, ketika ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba apinya padam, hingga dia menghadapi situasi yang tidak ia ketahui mana yang harus dia hindarkan dari bahaya yang ada di depannya. 


فكذلك المنافق : كان في ظلمة الشرك فأسلم ، فعرف الحلال والحرام ، و [ عرف ] الخير والشر ، فبينا هو كذلك إذ كفر ، فصار لا يعرف الحلال من الحرام ، ولا الخير من الشر .

Yang demikian itulah perihal orang munafik, pada awalnya dia berada dalam kegelapan kemusyrikan, lalu masuk Islam hingga mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, juga mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Ketika ia berada dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia kafir, akhirnya dia tidak lagi mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, tidak pula mana yang baik dan mana yang buruk'.

وقال مجاهد : ( فلما أضاءت ما حوله ) أما إضاءة النار فإقبالهم إلى المؤمنين والهدى .

Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman Allah: "Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya" (Al-Baqarah: 17). bahwa sinar api menunjukkan makna keadaan mereka di saat menghadap kepada orang-orang mukmin dan jalan hidayah.


وقال عطاء الخراساني في قوله : ( مثلهم كمثل الذي استوقد نارا ) قال : هذا مثل المنافق ، يبصر أحيانا ويعرف أحيانا ، ثم يدركه عمى القلب .

Ata' Al-Khurrasani mengatakan sehubungan dengan firman Allah, "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api" (Al-Baqarah: 17). mengatakan bahwa hal ini merupakan perumpamaan orang munafik yang kadangkala dia dapat melihat dan mengetahui, tetapi setelah itu ia menjumpai hatinya buta.


وقال ابن أبي حاتم : وروي عن عكرمة ، والحسن والسدي ، والربيع بن أنس نحو قول عطاء الخراساني .

Ibnu Abu Hatim mengatakan, dia telah meriwayatkan dari Ikrimah, Al-Hasan, As-Saddi, dan Ar-Rabi' ibnu Anas hal yang semisal dengan apa yang dikatakan oleh Ata Al-Khurrasani.


وقال عبد الرحمن بن زيد بن أسلم ، في قوله تعالى : ( مثلهم كمثل الذي استوقد نارا ) إلى آخر الآية ، قال : هذه صفة المنافقين . كانوا قد آمنوا حتى أضاء الإيمان في قلوبهم ، كما أضاءت النار لهؤلاء الذين استوقدوا ثم كفروا فذهب الله بنورهم فانتزعه ، كما ذهب بضوء هذه النار فتركهم في ظلمات لا يبصرون .

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam sehubungan dengan firman Allah, "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api" (Al-Baqarah: 17). hingga akhir ayat, bahwa hal tersebut merupakan tentang sifat orang-orang munafik. Pada mulanya mereka beriman hingga iman menyinari hati  mereka, sebagaimana api menyinari mereka yang menyalakannya. Kemudian mereka kafir, maka Allah menghilangkan cahayanya dan mencabut imannya sebagaimana Allah menghilangkan cahaya api tersebut, hingga mereka tertinggal dalam keadaan yang sangat gelap tanpa dapat melihat.


وقال العوفي ، عن ابن عباس ، في هذه الآية ، قال : أما النور : فهو إيمانهم الذي كانوا يتكلمون به ، وأما الظلمة : فهي ضلالتهم وكفرهم الذي كانوا يتكلمون به ، وهم قوم كانوا على هدى ، ثم نزع منهم ، فعتوا بعد ذلك .

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini. Adapun Cahaya merupakan perumpamaan bagi iman mereka yang dahulu sering mereka bicarakan, Dan adapun kegelapan merupakan perumpamaan bagi kesesatan dan kekufuran mereka yang dahulu mereka perbincangkan. Mereka adalah suatu kaum yang pada mulanya berada dalam jalan petunjuk, kemudian hidayah dicabut dari mereka, sesudah itu akhirnya mereka membangkang, tidak mau beriman lagi.


وأما قول ابن جرير فيشبه ما رواه علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس في قوله تعالى : ( مثلهم كمثل الذي استوقد نارا ) قال : هذا مثل ضربه الله للمنافقين أنهم كانوا يعتزون بالإسلام ، فيناكحهم المسلمون ويوارثونهم ويقاسمونهم الفيء ، فلما ماتوا سلبهم الله ذلك العز ، كما سلب صاحب النار ضوءه .

Dan adapun pendapat Ibnu Jarir serupa dengan riwayat Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman Allah: "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api (Al-Baqarah: 17). Disebutkan bahwa hal ini merupakan suatu perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk menggambarkan orang-orang munafik. Yaitu pada mulanya mereka merasa bangga dengan Islam, maka kaum muslim mau mengadakan pernikahan dengan mereka, saling mewaris dan saling membagi harta fai. Tetapi di kala mereka mati, Allah mencabut kebanggaan itu dari mereka sebagaimana cayaha api yang dihilangkan dari orang yang memerlukannya.


وقال أبو جعفر الرازي ، عن الربيع بن أنس ، عن أبي العالية : ( مثلهم كمثل الذي استوقد نارا ) فإنما ضوء النار ما أوقدتها ، فإذا خمدت ذهب نورها ، وكذلك المنافق ، كلما تكلم بكلمة الإخلاص ، بلا إله إلا الله ، أضاء له ، فإذا شك وقع في الظلمة .

Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan firman Allah: "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api (Al-Baqarah: 17). bahwa sesungguhnya cahaya api itu adalah cahaya api yang dinyalakannya. Tetapi bila api itu padam, maka lenyaplah cahayanya. Demikian pula keadaan orang munafik, manakala dia mengucapkan kalimat Ikhlas yaitu dengan lafadz "tidak ada Tuhan selain Allah" ia berada dalam cahaya yang terang; tetapi jika ia ragu, maka terjerumuslah ia ke dalam kegelapan.


وقال الضحاك [ في قوله ] ( ذهب الله بنورهم ) أما نورهم فهو إيمانهم الذي تكلموا به .

Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan firman Allah, "Allah menghilangkan pada cahaya mereka" (Al-Baqarah: 17) Cahaya api mereka merupakan perumpamaan bagi iman mereka yang selalu mereka bicarakan.


وقال عبد الرزاق ، عن معمر ، عن قتادة : ( مثلهم كمثل الذي استوقد نارا فلما أضاءت ما حوله ) فهي لا إله إلا الله ؛ أضاءت لهم فأكلوا بها وشربوا وأمنوا في الدنيا ، ونكحوا النساء ، وحقنوا دماءهم ، حتى إذا ماتوا ذهب الله بنورهم وتركهم في ظلمات لا يبصرون .

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah mengenai firman Allah: "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya" (Al-Baqarah: 17) Yang dimaksud dengan api ialah perumpamaan kalimat"tidak ada Tuhan selain Allah". Api itu menerangi mereka hingga mereka dapat makan dan minum, dianggap beriman di dunia, melakukan pernikahan, serta darah mereka terjaga. Tetapi di kala mereka mati, Allah menghilangkan cahaya mereka dan membiarkan mereka berada dalam keadaan yang sangat gelap, tidak dapat melihat.


وقال سعيد ، عن قتادة في هذه الآية : إن المعنى : أن المنافق تكلم بلا إله إلا الله فأضاءت له الدنيا ، فناكح بها المسلمين ، وغازاهم بها ، ووارثهم بها ، وحقن بها دمه وماله ، فلما كان عند الموت ، سلبها المنافق ؛ لأنه لم يكن لها أصل في قلبه ، ولا حقيقة في عمله .

Sa'id meriyawatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa orang munafik yang mengucapkan kalimat "tidak ada Tuhan selain Allah" memperoleh cahaya dalam kehidupan di dunia. Untuk itu, mereka dapat menikah dengan kaum muslim melalui kalimat tersebut dan berperang bersama kaum muslim, dapat waris-mewaris dengan mereka, dan melindungi darah serta hartanya. Tetapi di saat ia mati, kalimat tersebut ia cabut karena di dalam hatinya tidak ada pangkalnya; pada amal perbuatannya pun tidak ada hakikat kenyataan. 

( وتركهم في ظلمات ) قال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس : ( وتركهم في ظلمات ) يقول : في عذاب إذا ماتوا .

Maka pada ayat selanjutnya disebutkan: "Dan Allah meninggalkan mereka dalam kegelapan" (Al-Baqarah: 17) Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah, "Dan Allah meninggalkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat" (Al-Baqarah: 17) yakni Allah meninggalkan mereka dalam kegelapan (maksudnya dalam azab) bila mereka mati.


وقال محمد بن إسحاق ، عن محمد بن أبي محمد ، عن عكرمة ، أو سعيد بن جبير ، عن ابن عباس : ( وتركهم في ظلمات ) أي يبصرون الحق ويقولون به ، حتى إذا خرجوا من ظلمة الكفر أطفئوه بكفرهم ونفاقهم فيه ، فتركهم الله في ظلمات الكفر ، فهم لا يبصرون هدى ، ولا يستقيمون على حق .

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah, "Dan Allah meninggalkan mereka dalam kegelapan" (Al-Baqarah: 17) yakni mereka dapat melihat perkara hak dengan mata hatinya, dan mengatakannya hingga mereka dapat keluar dari kegelapan kekufuran. Akan tetapi, sesudah itu mereka memadamkannya melalui kekufuran dan kemunafikan mereka, akhirnya Allah membiarkan mereka dalam kegelapan kekufuran, hingga tidak dapat melihat hidayah dan tidak dapat berjalan lurus dalam perkara yang hak.


وقال السدي في تفسيره بسنده : ( وتركهم في ظلمات ) فكانت الظلمة نفاقهم .

As-Saddi di dalam kitab tafsirnya meriwayatkan berikut sanadnya mengenai firman Allah, "Dan Allah meninggalkan mereka dalam kegelapan" (Al-Baqarah: 17) bahwa kegelapan tersebut merupakan perumpamaan bagi kemunafikan mereka.


وقال الحسن البصري : ( وتركهم في ظلمات لا يبصرون ) فذلك حين يموت المنافق ، فيظلم عليه عمله عمل السوء ، فلا يجد له عملا من خير عمل به يصدق به قول : لا إله إلا الله .

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa lafadz "Dan Allah meninggalkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat" (Al-Baqarah: 17) artinya hal tersebut terjadi ketika orang munafik mati. Maka amal perbuatan jahatnya merupakan kegelapan baginya, hingga dia tidak dapat menemukan suatu amal baik pun yang sesuai dengan kalimat "tidak ada tuhan selain Allah.


( صم بكم عمي ) قال السدي بسنده : ( صم بكم عمي ) فهم خرس عمي .

"Mereka tuli, bisu, dan buta" (Al-Baqarah: 18), As-Saddi meriwayatkan berikut sanadnya sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa mereka bisu, buta serta tuli.


وقال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس : ( صم بكم عمي ) يقول : لا يسمعون الهدى ولا يبصرونه ولا يعقلونه ، وكذا قال أبو العالية ، وقتادة بن دعامة .

Ali Ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan lafadz "Mereka tuli, bisu, dan buta" (Al-Baqarah: 18), bahwa mereka tidak dapat mendengar petunjuk, tidak dapat melihatnya, dan tidak dapat memahaminya. Hal yang sama dikatakan pula oleh Abul Aliyah dan Qatadah ibnu Di'amah.


( فهم لا يرجعون ) قال ابن عباس : أي لا يرجعون إلى هدى ، وكذلك قال الربيع بن أنس .

"maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)" Al-Baqarah: 18, menurut Ibnu Abbas mereka tidak dapat kembali ke jalan hidayah. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi' ibnu Anas.


وقال السدي بسنده : ( صم بكم عمي فهم لا يرجعون ) إلى الإسلام .

As-Saddi meriwayatkan berikut sanadnya sehubungan dengan makna firman Allah, "Mereka tuli, bisu, dan buta; maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)" Al-Baqarah: 18. yakni mereka tidak dapat kembali kepada Islam.


وقال قتادة : ( فهم لا يرجعون ) أي لا يتوبون ولا هم يذكرون .

Sedangkan menurut Qatadah, "maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)" Al-Baqarah: 18 maksudnya tidak dapat bertobat dan tidak pula mereka ingat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar