Senin, 03 Mei 2021

002. Tafsir Ibnu Katsir : Surat Al-Baqarah - Ayat 15

 

﴿ ٱللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِى طُغْيَٰنِهِمْ يَعْمَهُونَ ﴾

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.     

 

وقوله تعالى جوابا لهم ومقابلة على صنيعهم : ( الله يستهزئ بهم ويمدهم في طغيانهم يعمهون )

 Dan Allah menjawab untuk mereka dan melawan tindakan mereka

وقال ابن جرير : أخبر الله تعالى أنه فاعل بهم ذلك يوم القيامة ، في قوله : ( يوم يقول المنافقون والمنافقات للذين آمنوا انظرونا نقتبس من نوركم قيل ارجعوا وراءكم فالتمسوا نورا فضرب بينهم بسور له باب باطنه فيه الرحمة وظاهره من قبله العذاب ) الآية [ الحديد : ١٣ ]

Ibnu Jarir mengatakan, Allah memberitahukan  bahwa Dialah yang  akan  melakukan pembalasan terhadap orang- orang munafik itu kelak di hari kiamat, seperti yang dinyatakan di dalam firman Allah : "Pada harinya ketika orang- orang munafik laki- laki dan perempuan berkata kepada orang- orang yang beriman, Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian. Dikatakan (kepada mereka), Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untuk kalian). Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa [Al- Hadid : 13]. 


وقوله تعالى : ( ولا يحسبن الذين كفروا أنما نملي لهم خير لأنفسهم إنما نملي لهم ليزدادوا إثما ولهم عذاب مهين ) [ آل عمران : ١٧٨ ]

Dalam ayat lain Allah berfirman: Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian  tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah- tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan. (Ali Imran : 178). 


قال : فهذا وما أشبهه ، من استهزاء الله تعالى ذكره ، وسخريته ومكره وخديعته للمنافقين ، وأهل الشرك به عند قائل هذا القول ، ومتأول هذا التأويل .

Ibnu Jarir mengatakan bahwa hal ini dan yang serupa dengannya merupakan ejekan, penghinaan, makar, dan tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik dan orang-orang musyrik, menurut orang yang menakwilkan ayat ini dengan pengertian tersebut.


قال : وقال آخرون : بل استهزاؤه بهم توبيخه إياهم ، ولومه لهم على ما ركبوا من معاصيه ، والكفر به .

Ibnu Jarir mengatakan pula, bahwa ulama lainnya mengatakan bahwa Allah mengejek  terhadap mereka berupa celaan dan penghinaan Allah terhadap mereka  karena mereka telah berbuat durhaka dan kufur terhadap Allah. 


قال : وقال آخرون : هذا وأمثاله على سبيل الجواب ، كقول الرجل لمن يخدعه إذا ظفر به : أنا الذي خدعتك . ولم تكن منه خديعة ، ولكن قال ذلك إذ صار الأمر إليه ، قالوا : وكذلك قوله : ( ومكروا ومكر الله والله خير الماكرين ) [ آل عمران : ٥٤ ] و ( الله يستهزئ بهم ) على الجواب ، والله لا يكون منه المكر ولا الهزء ، والمعنى : أن المكر والهزء حاق بهم .

Ibnu Jarir mengatakan pula, Ulama lainnya lagi mengatakan bahwa ungkapan seperti ini dan yang semisal merupakan ungkapan pembalikan. Perihalnya sama dengan ucapan seseorang terhadap orang yang menipunya bila ternyata ia dapat membalikkan tipuan lawannya, Justru akulah yang telah menipumu (bukan kamu yang menipuku). Akan tetapi, dalam hakikatnya Allah tidak melakukan tipuan; melainkan Dia mengatakan hal tersebut hanya semata-mata menggambarkan tentang akibat dari apa yang diperbuat mereka. Para ulama yang berpendapat seperti ini mengatakan bahwa halyang sama terdapat pula di dalam firman Allah: Orang- orang  kafir  itu  membuat  tipu  daya  dan  Allah membalas tipu  daya mereka  itu.  Dan Allah sebaik- baik pembalas tipu daya. (Ali Imran : 54). Dan Allah akan "Membalas pada penghinaan mereka" Hal tersebut merupakan jawaban semata, karena sesungguhnya Allah tidak melakukan upadaya dan tidak pula menghina. Dengan kata lain, makna yang dimaksud ialah bahwa upadaya dan penghinaan mereka itu justru menimpa diri mereka sendiri (barang siapa menggali lubang, dia sendiri yang akan terjerumus ke dalamnya). 


وقال آخرون : قوله : ( إنما نحن مستهزئون الله يستهزئ بهم )

Ulama lainnya mengatakan bahwa Allah berfirman: Sesungguhnya kami orang yang menghina. Maka Allah akan (membalas) pada penghinaan mereka. (Al-Baqarah : 14-15)


 وقوله ( يخادعون الله وهو خادعهم ) [ النساء : ١٤٢ ]

Fiman Allah: Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah lah yang menipu mereka. (An-Nisa: 142)


وقوله ( فيسخرون منهم سخر الله منهم ) [ التوبة : ٧٩ ]

Fiman Allah: Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka. (At-Taubah: 79)


 و ( نسوا الله فنسيهم ) [ التوبة : ٦٧ ]

Fiman Allah: Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah  melupakan mereka (pula). (At-Taubah: 67)


وما أشبه ذلك ، إخبار من الله تعالى أنه يجازيهم جزاء الاستهزاء ، ويعاقبهم عقوبة الخداع فأخرج خبره عن جزائه إياهم وعقابه لهم مخرج خبره عن فعلهم الذي عليه استحقوا العقاب في اللفظ

Demikian pula ayat-ayat lainnya yang semakna, semuanya merupakan berita dari Allah bahwa Dia pasti akan memberikan balasan terhadap mereka dengan balas yang hina dan menyiksa mereka dengan siksaan tipuan, sebagaimana tipuan yang telah mereka lakukan. Kemudian berita mengenai balasan Allah dan siksaannya kepada mereka diungkapkan dengan gaya bahasa yang sama dengan perbuatan mereka yang menyebabkan mereka berhak mendapat siksaan Allah, hanya dari segi lafaznya saja.


وإن اختلف المعنيان كما قال تعالى : ( وجزاء سيئة سيئة مثلها ) [ الشورى : ٤٠ ]

tetapi maknanya berbeda. Perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam firman Allah: Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. (Asy-Syura: 40)


وقوله تعالى : ( فمن اعتدى عليكم فاعتدوا عليه ) [ البقرة : ١٩٤ ]

Fiman Allah: Oleh sebab itu barang siapa menyerang kalian, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kalian. (Al-Baqarah: 194)


فالأول ظلم ، والثاني عدل ، فهما وإن اتفق لفظاهما فقد اختلف معناهما .

Makna pertama mengandung pengertian perbuatan aniaya, sedangkan makna yang kedua mengandung pengertian keadilan. Lafaz yang dipakai pada keduanya sama, tetapi makna yang dimaksud berbeda berdasarkan pengertian inilah semua makna yang sejenis di dalam Al-Qur'an diartikan dengan pengertian seperti ini.


قال : وإلى هذا المعنى وجهوا كل ما في القرآن من نظائر ذلك .

Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka. (At-Taubah: 79)


قال : وقال آخرون : إن معنى ذلك : أن الله أخبر عن المنافقين أنهم إذا خلوا إلى مردتهم قالوا : إنا معكم على دينكم ، في تكذيب محمد صلى الله عليه وسلم وما جاء به ، وإنما نحن بما يظهر لهم - من قولنا لهم : صدقنا بمحمد ، عليه السلام ، وما جاء به مستهزئون ؛ فأخبر الله تعالى أنه يستهزئ بهم ، فيظهر لهم من أحكامه في الدنيا ، يعني من عصمة دمائهم وأموالهم خلاف الذي لهم عنده في الآخرة ، يعني من العذاب والنكال .

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama lainnya mengatakan, sesungguhnya makna yang dimaksud ialah bahwa Allah memberitakan perihal orang- orang munafik apabila mereka berkumpul dengan pemimpin-pemimpinnya, mereka mengatakan, Sesungguhnya kami sama dengan kalian dalam menipu Muhammad dan apa yang didatangkannya. Sesungguhnya kata-kata yang kami ucapkan dan sikap yang kami perlihatkan kepada mereka hanyalah untyuk menghina mereka. Maka Allah mengabarkan melalui surat Al-baqarah ayat 15 bahwa Allah membalas dengan penghinaan mereka. Untuk itu, Allah menampakkan kepada mereka sebagian dari hukum-hukumnya di dunia, yaitu menjaga darah mereka , begitu pula harta benda mereka, padahal hal itu kebalikan dari apa yang akan terjadi pada diri mereka kelak di dalam akhirat, yaitu hukuman berat dan siksaan.


ثم شرع ابن جرير يوجه هذا القول وينصره ؛ لأن المكر والخداع والسخرية على وجه اللعب والعبث منتف عن الله عز وجل ، بالإجماع ، وأما على وجه الانتقام والمقابلة بالعدل والمجازاة فلا يمتنع ذلك .

Kemudian Ibnu Jarir mengemukakan alasan dukungannya terhadap pendapat ini, mengingat tipu daya, makar, dan penghinaan dalam menghadapi permainan dan tidak ada gunanya merupakan hal yang mustahil akan dilakukan oleh Allah menurut kesepakatan semua ulama. Bila hal tersebut diartikan sebagai pembalasan dan ganjaran-ganjaran yang setimpal secara adil, itu dapatlah dimengerti.


قال : وبنحو ما قلنا فيه روي الخبر عن ابن عباس : حدثنا أبو كريب ، حدثنا عثمان ، حدثنا بشر ، عن أبي روق ، عن الضحاك ، عن ابن عباس ، في قوله تعالى : ( الله يستهزئ بهم ) قال : يسخر بهم للنقمة منهم .

Ibnu Jarir mengatakan, ada sebuah riwayat yang sependapat dengan apa yang telah kami katakan, dikabarkan dari Ibnu Abbas. Di dalam riwayat ini disebutkan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, Abu Usman, Bisyr, dari Abu Rauq, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman Allah: Allah akan (membalas) penghinaan mereka, (Al-Baqarah ayat 15), artinya Allah menghina mereka sebagai pembalasannya terhadap tindakan mereka.

وقوله تعالى : ( ويمدهم في طغيانهم يعمهون ) قال السدي : عن أبي مالك ، وعن أبي صالح ، عن ابن عباس ، وعن مرة ، عن ابن مسعود ، وعن أناس من الصحابة [ قالوا ] يمدهم : يملي لهم .

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 15 "Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka", Menurut As-Saddi, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas'ud serta dari sejumlah sahabat Nabi, "يمدهم" artinya Allah membiarkan mereka. 

وقال مجاهد : يزيدهم .

Mujahid mengatakan bahwa makna "يمدهم" ialah menambahkan kepada mereka. 


قال ابن جرير : والصواب يزيدهم على وجه الإملاء والترك لهم في عتوهم وتمردهم ، كما قال : ( ونقلب أفئدتهم وأبصارهم كما لم يؤمنوا به أول مرة ونذرهم في طغيانهم يعمهون ) [ الأنعام : ١١٠ ] .

Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang benar ialah Kami menambahkan  kepada mereka, dengan pengertian  membiarkan dan memperturutkan mereka di dalam kesombongan dan pembangkangannya, sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam ayat lain, yaitu firman Allah: Dan (begitu  pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (Al-An'am: 110).


والطغيان : هو المجاوزة في الشيء . كما قال : ( إنا لما طغى الماء حملناكم في الجارية ) [ الحاقة : ١١ ] ، وقال الضحاك ، عن ابن عباس : ( في طغيانهم يعمهون ) في كفرهم يترددون .

"الطغيان" artinya melampaui batas dalam suatu hal, sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam firman Allah: Sesungguhnya Kami tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa pada kalian ke dalam bahtera. (Al-Haqqah: 11).  Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas bahwa mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (Al-Baqarah: 15) artinya mereka terombang-ambing di dalam kekufurannya.

 

وكذا فسره السدي بسنده عن الصحابة ، وبه يقول أبو العالية ، وقتادة ، والربيع بن أنس ، ومجاهد ، وأبو مالك ، وعبد الرحمن بن زيد : في كفرهم وضلالتهم .

Hal yang sama ditafsirkan pula oleh As-Saddi berikut sanadnya dari para sahabat. Hal yang sama dikatakan oleh Abul Aliyah, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, Mujahid, Abu Malik, dan Abdur Rahman ibnu Zaid, bahwa mereka terombang-ambing di dalam kekufuran dan kesesatan.


قال ابن جرير : والعمه : الضلال ، يقال : عمه فلان يعمه عمها وعموها : إذا ضل .

Ibnu Jarir mengatakan lafaz "العمه" artinya sesat,   dikatakan "عمه فلان", "يعمه", "عمها" dan "عموها" artinya si  fulan telah tersesat. 


قال : وقوله : ( في طغيانهم يعمهون ) في ضلالهم وكفرهم الذي غمرهم دنسه ، وعلاهم رجسه ، يترددون [ حيارى ] ضلالا لا يجدون إلى المخرج منه سبيلا ؛ لأن الله تعالى قد طبع على قلوبهم وختم عليها ، وأعمى أبصارهم عن الهدى وأغشاها ، فلا يبصرون رشدا ، ولا يهتدون سبيلا .

Ibnu Jarir mengatakan, makna mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka (Al-Baqarah ayat 15) artinya ialah di dalam kekufuran dan kesesatan yang menggelimangi  dan menutupi diri mereka karena  perbuatan kotor dan najis, mereka terombang-ambing dalam kebingungan dan kesesatan mereka tidak akan dapat menemukan jalan keluar, karena Allah telah mengunci mati hati mereka dan mengelaknya serta membutakan pandangan hati mereka dari jalan hidayah, hingga tertutup pandangan mereka, tidak dapat melihat petunjuk, tidak dapat pula mengetahui jalannya.


[ وقال بعضهم : العمى في العين ، والعمه في القلب ، وقد يستعمل العمى في القلب أيضا : قال الله تعالى : ( فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمى القلوب التي في الصدور ) [ الحج : ٤٦ ] ويقال : عمه الرجل يعمه عموها فهو عمه وعامه ، وجمعه عمه ، وذهبت إبله العمهاء : إذا لم يدر أين ذهبت .

Sebagian ulama mengatakan bahwa "العمى" (buta) khusus bagi buta mata, sedangkan "العمه" khusus bagi buta hati, tetapi adakalanya lafaz "العمى" dipakai untuk pengertian buta hati, seperti yang terdapat di dalam firman Allah: "Maka sesungguhnya bukanlah matanya yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada (surat Al-Haji ayat 46). Dikatakan "عمه الرجل" artinya lelaki itu pergi tanpa mengetahui tujuan. Bentuk  mudari' nya "يعمه", bentuk isim fa'il nya "عمه" dan "عمه" bentuk jamaknya "عامه", sedangkan bentuk masdarnya ialah "عموها". Dikatakan "وذهبت إبله العمهاء" jika untanya tidak diketahui ke mana perginya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar