Senin, 26 April 2021

002. Tafsir Ibnu Katsir : Surat Al-Baqarah - Ayat 9

﴿ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ ﴾

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Dan tidaklah mereka menipu melainkan pada dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar.”

وقوله تعالى : ( يخادعون الله والذين آمنوا ) أي : بإظهارهم ما أظهروه من الإيمان مع إسرارهم الكفر ، يعتقدون بجهلهم أنهم يخدعون الله بذلك ، وأن ذلك نافعهم عنده ، وأنه يروج عليه كما يروج على بعض المؤمنين ، كما قال تعالى : ( يوم يبعثهم الله جميعا فيحلفون له كما يحلفون لكم ويحسبون أنهم على شيء ألا إنهم هم الكاذبون ) [ المجادلة : ١٨ ] ؛ ولهذا قابلهم على اعتقادهم ذلك بقوله : ( وما يخدعون إلا أنفسهم وما يشعرون ) يقول : وما يغرون بصنيعهم هذا ولا يخدعون إلا أنفسهم ، وما يشعرون بذلك من أنفسهم ، كما قال تعالى : ( إن المنافقين يخادعون الله وهو خادعهم ) [ النساء : ١٤٢ ].

Firman Allah yang maha luhur:  (Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman), yakni dengan memperlihatkan keimanan kepada Allah sambil menyembunyikan kekufuran. Dengan kebodohan itu, mereka menduga telah menipu Allah dengan ucapannya itu, dan menyangka bahwa ucapan itu bermanfaat baginya di sisi Allah. Mereka berbohong kepada Allah sebagaimana berbohong kepada sebagian orang beriman. Sebagaimana firman Allah dalam Surah [Al-Mujadalah : 18] “Ingatlah hari ketika mereka semua dibangkitkan oleh Allah, lalu mereka bersumpah kepada allah (bahwa mereka bukan orang munafik) sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian. Dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itulah para pendusta.” Oleh karena itu Allah membalas keyakinan mereka dengan firmannya : (Dan tidaklah mereka menipu melainkan pada dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar) dikatakan bahwa mereka tidak menipu dengan tindakan ini, kecuali mereka hanya menipu diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadari hal itu. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah [An-Nisaa’ : 142] (Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka itu).

ومن القراء من قرأ : " وما يخادعون إلا أنفسهم " ، وكلا القراءتين ترجع إلى معنى واحد .

Di antara bacaan yang membaca ayat kesembilan “Dan tidaklah mereka menipu melainkan pada dirinya sendiri.” Kedua bacaan tersebut mempunyai satu pengertian.

قال ابن جرير : فإن قال قائل : كيف يكون المنافق لله وللمؤمنين مخادعا ، وهو لا يظهر بلسانه خلاف ما هو له معتقد إلا تقية ؟

Ibnu Jubair mengatakan: jika ada orang yang mengatakan: “Bagaimana orang-orang munafik kepada Allah dan orang-orang beriman ditipu, sedang mereka itu tidak menampakkan keimanan yang bertentangan dengan apa yang diyakininya kecuali upaya taqiyyah (untuk menyelamatkan diri).”

قيل : لا تمتنع العرب أن تسمي من أعطى بلسانه غير الذي في ضميره تقية ، لينجو مما هو له خائف ، مخادعا ، فكذلك المنافق ، سمي مخادعا لله وللمؤمنين ، بإظهاره ما أظهر بلسانه تقية ، مما تخلص به من القتل والسباء والعذاب العاجل ، وهو لغير ما أظهر ، مستبطن ، وذلك من فعله - وإن كان خداعا للمؤمنين في عاجل الدنيا - فهو لنفسه بذلك من فعله خادع ، لأنه يظهر لها بفعله ذلك بها أنه يعطيها أمنيتها ، ويسقيها كأس سرورها ، وهو موردها حياض عطبها ، ومجرعها بها كأس عذابها ، ومزيرها من غضب الله وأليم عقابه ما لا قبل لها به ، فذلك خديعته نفسه ، ظنا منه - مع إساءته إليها في أمر معادها - أنه إليها محسن ، كما قال تعالى : ( وما يخدعون إلا أنفسهم وما يشعرون ) إعلاما منه عباده المؤمنين أن المنافقين بإساءتهم إلى أنفسهم في إسخاطهم عليها ربهم بكفرهم ، وشكهم وتكذيبهم ، غير شاعرين ولا دارين ، ولكنهم على عمياء من أمرهم مقيمون .

Pernyataan seperti itu dapat dijawab; bangsa Arab tidak melarang menyebut orang yang memberikan keterangan dengan lisannya padahal bertentangan dengan apa yang ada di dalam hatinya sebagai upaya taqiyyah, untuk menyelamatkan diri dari hal yang ditakutinya, dengan menamakan orang tersebut penipu. Demikian halnya dengan orang munafik, disebutkan menipu Allah Ta’ala dan orang-orang yang beriman dengan cara menampakkan keimanan mereka kepada-Nya dan juga kepada orang-orang mukmin melalui ucapa lisannya dengan tujuan agar bisa selamat dari pembunuhan, perampasan dan penyiksaan di dunia. Sedangkan penipuan mereka terhadap orang-orang mukmin di dunia ini, pada hakikatnya merupakan tipuan terhadap diri mereka sendiri. Karena merasa telah tercapai keinginan mereka dan menyangka bahwa tindakan itu dapat mendatangkan kebahagiaan bagi mereka. Padahal sebenarnya hal itu justru merupakan sumber kebinasaan, serta menyeret kepada kemurkaan dan siksa Allah Ta’ala yang sangat pedih, yang sama sekali tidak mereka harapkan. Itulah yang dimaksud dengan penipuan terhadap dirinya sendiri, sedangkan ia menyangka bahwa tipuan itu untuk menipu orang lain (dan kemunafikan itu telah merusak urusan akhiratnya), sebagaimana firman-Nya dalam ayat ini. Yang demikian itu dimaksudkan untuk memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa tindakan mereka (orang-orang munafik) itu hanya menyakiti diri mereka sendiri disebabkan oleh murka Allah Ta’ala akibat kekufuran, keraguan dan kebohongan mereka itu. Sementara orang-orang munafik sama sekali tidak menyadarinya, karena mereka senantiasa berada dalam kebutaan terhadap apa yang mereka lakukan tersebut.

وقال ابن أبي حاتم : أنبأنا علي بن المبارك ، فيما كتب إلي ، حدثنا زيد بن المبارك ، حدثنا محمد بن ثور ، عن ابن جريج ، في قوله تعالى : ( يخادعون الله ) قال : يظهرون لا إله إلا الله يريدون أن يحرزوا بذلك دماءهم وأموالهم ، وفي أنفسهم غير ذلك .

Ibnu Hatim menceritakan, Ali bin Al-Mubarak memberitahu kami, Zaid bin Al-Mubarak memberitahu kami, bahwa Muhammad bin Tsaur memberitahukan sebuah hadis dari Ibnu Juraij mengenai firman-Nya ‘yukhaadi’uuna Allah’ (mereka menipu Allah), ia mengatakan, mereka memperlihatkan diri mengucapkan kalimat ‘laa ilaaha illaa Allah’ (tiada Ilah selain Allah) dengan tujuan menyelamatkan nyawa dan kekayaan mereka agar tidak lenyap, sedang hati mereka sama sekali tidak mengakuinya.

وقال سعيد ، عن قتادة : ( ومن الناس من يقول آمنا بالله وباليوم الآخر وما هم بمؤمنين يخادعون الله والذين آمنوا وما يخدعون إلا أنفسهم وما يشعرون ) نعت المنافق عند كثير : خنع الأخلاق ، يصدق بلسانه وينكر بقلبه ويخالف بعمله ، يصبح على حال ويمسي على غيره ، ويمسي على حال ويصبح على غيره ، ويتكفأ تكفؤ السفينة ، كلما هبت ريح هب معها .

Sa’id dan Qatadah mengatakan, sifat orang munafik itu ada pada banyak hal akhlaknya tercela, ia membenarkan dengan lisan dan mengingkari dengan hatinya serta berlawanan dengan perbuatannya. Pagi hari begini dan sore harinya telah berubah. Sore harinya begini dan pagi harinya telah berubah pula. Ia berubah-ubah seperti goyangnya kapal karena terpaan angina, setiap kali angina bertiup, maka ia pun ikut bergoyang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar