Rabu, 10 November 2021

Kitab Fiqih 4 Mazhab - Bab Toharoh

كتاب الفقه على المذاهب الأربعة

تأليف عبد الرحمن الجزيري

 

كتاب الطهارة

Catatan Bersuci

تعريفها

Definisinya

معنى الطهارة في اللغة : النظافة والنزاهة عن الأقذار والأوساخ ، سواء كانت حسّية ، أو معنوية ، ومن ذلك ما ورد في الصحيح عن ابن عباس رضي الله عنهما ، أن النبي ﷺ کان إذا دخل على مريض قال : « لا بأس ، طهور إن شاء الله » ، والطهور كفطور ، المطهر من الذنوب فهو ﷺ يقول : إن المرض مطهر من الذنوب ، وهي أقذار معنوية ، ويقابل الطهارة النجاسة ، ومعناها في اللغة : كل شيء مستقذر ، حسياً كان ، أو معنوياً فيقال للآثام : نجاسة وإن كانت معنوية ، وفعلها : نجس « بفتح الجيم وضمها وكسرها » ينجس « بفتح الجيم وضمها » نجاسة ، فهو نجس . ونجس « بكسر الجيم وفتحها » ، ومن المفتوح قوله تعالى : « إنما المشركون نجس » .

 
Makna ṭahārah (طهارة) dalam bahasa Arab:
Adalah kebersihan dan terhindar dari kotoran dan najis, baik yang bersifat fisik maupun maknawi (non-fisik).
Contohnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih dari Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā, bahwa Nabi ﷺ apabila menjenguk orang sakit, beliau berkata:
"[لا بأس ، طهور إن شاء الله] (Tidak mengapa, semoga menjadi penyucian [dosa] jika Allah menghendaki).
Kata [الطهور], seperti [فطور], berarti pembersih dari dosa. Maka beliau ﷺ bersabda bahwa sakit itu adalah pembersih dari dosa-dosa, yang merupakan najis dalam bentuk maknawi (non-fisik).
Lawan dari ṭahārah adalah najāasah (النجاسة), yang secara bahasa berarti segala sesuatu yang dianggap kotor, baik secara fisik maupun maknawi. Maka perbuatan dosa disebut juga sebagai najis, meskipun bersifat maknawi.
Kata kerja dari najis adalah:
نَجُسَ (najusa) — dengan fathah, dhammah, atau kasrah pada huruf ج (jīm), yang berarti menjadi najis.
Bentuk mudhāri‘ (present tense): يَنجُسُ (yangjusu) — dengan fathah atau dhammah pada jīm.
Isim (kata benda): نجاسة (najāsah).
Orangnya disebut: نَجِس (najis) — bisa dengan kasrah atau fathah pada jīm.
Contoh dari bentuk fathah adalah firman Allah Ta‘ālā:
"إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ"
(Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis) — [QS. At-Taubah: 28]. 

 

أما تعريف الطهارة والنجاسة في اصطلاح الفقهاء ، ففيه تفصيل المذاهب ( ۱ ) .

 
Adapun pengertian suci dan najis menurut istilah para fuqaha, maka didalam detail pemikiran para mazhab-mazhab.

 

أما تعريف الحنفية قالوا : الطهارة شرعاً النظافـة عن حدث . أو خبث ، فقـولهم : النظافـة يشمل مـا إذا نظفها الشخص ، أو نظفت وحدها ، بأن سقط عليها ماء فأزالها ، وقولهم : عن حدث يشمـل الحدث الأصغر ، وهو ما ينافي الوضوء من ريح ونحوه ، والحـذث الأكبر ، وهـو الجنابـة الموجبـة للغسل ، وقـد عرفوا الحدث بأنه وصف شرعي يحل ببعض الأعضاء . أو بالبدن كله فيزيل الطهارة ، ويقال له : نجاسة حكميـة ، بمعنى أن الشارع حكم بكـون الحدث نجاسة تمنع من الصلاة ، كمـا تمنع منهـا النجاسـة المحشة ، أما الخبث فمعناه في الشرع العين المستقذرة التي أمر الشارع بنظافتها .

 
Adapun definisi mazhab Hanafi mereka mengatakan: Kesucian di syariatkan untuk bersih dari hadas (tidak suci). Atau kotoran, maka mereka berkata: Kebersihan meliputi apakah seseorang membersihkannya, atau dibersihkan sendiri, jika air jatuh di atasnya dan mensucikannya. Dan perkataan mereka: Tentang hadas yang termasuk najis kecil, yang membatalkan wudhu seperti angin (kentut) dan sejenisnya, dan hadas besar, yaitu najis yang mengharuskannya mandi. Mereka mendefinisikan hadas tersebut sebagai deskripsi syariat yang halal (boleh) dari bagian anggota tubuh. Atau dengan seluruh tubuh dan itu menghilangkan kesucian, dan dikatakan kepadanya: kotoran hukumnya, artinya bahwa syariat memutuskan hadas tersebut adalah najis yang mencegah seseorang untuk sholat, seperti halnya kenajisan seorang penganiaya dicegah darinya. Adapun kedengkian dalam syariat berarti mata kotor yang diperintahkan oleh syariat dengan membersihkannya.

 

وبهـذا تعلم أن النجاسة تقابـل الطهـارة ، وأنها عبـارة عن مجموع أمـرين : الحدث . والخبث ، ولكن اللغة تطلقها على كل مستقذر ، سواء كـان حسياً ، كـالدم . والبـول . والعذرة . ونحوها ، أو كـان معنوياً ، كالذنوب ، أما الفقهاء فقد خصوا الحدث بالأمور المعنوية ، وهـو الوصف الشرعي الذي حكم الشارع بأنه حل في البدن كله عند الجنـابة أو في أعضـاء الوضـوء عند وجـود ناقض الوضوء من ريـح ونحوه ، وخصوا الخبث بالأمور العينية المستقذرة شرعاً ، كالدم . . . الخ .

 
Dan dengan ini diketahui bahwa najis bertemu dengan suci, dan bahwa itu adalah istilah bertemunya dua hal : Hadas. Dan kedengkian, dan tetapi bahasa itu berlaku untuk setiap yang najis, sama ada fisiknya, seperti darah. air kencing. dan alasannya. Dan sejenisnya, atau yang tidak ada fisiknya, seperti dosa. Adapun para fuqoha, mereka memisahkan hadas dengan yag tidak ada fisiknya. Dan merupakan gambaran hukum syariat yang telah ditetapkan oleh pembuat syariat bahwa wudhu itu larut dalam seluruh tubuh ketika najis atau di bagian-bagian wudhu ketika ada yang membatalkan wudhu seperti angin (kentut) dan sejenisnya. khususnya kebencian untuk hal-hal yang tidak ada fisiknya yang tidak sah menurut hukum Syariat, seperti darah. . . dll.

 

ولعل قائلا يقول : إن هذا التعريف يخرج الوضوء على الوضوء بنية القربة إلى الله ، فإن الوضـوء الثاني لم يزل حدثاً ولم يرفع خبثاً ، مع كونه طهارة ، والجواب : أن الوضوء على الوضوء بنيـة القربى وإن لم يزل حدثاً ، ولكنه يزيل الذنوب الصغائر ، وهي أقذار معنوية ، وقد عرفت أن اللغة تطلق الخبث على الأمور المعنوية ، والفقهاء وإن كانوا يخصون الخبث بالأمـور الحسية .

 
Barangkali ada yang berkata: Pengertian wudhu ini menyimpang dari wudhu dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah, karena wudhu kedua masih najis dan belum menghilangkan kedengkian, dengan menjadikannya suci. Jawabannya, wudhu dilakukan dengan niat mendekat dan walaupun tidak menghilangkan hadas, tetapi dapat menghilangkan dosa-dosa kecil, yang merupakan kotoran yang tidak ada bentuknya, dan mengetahui bahwa bahasanya melepaskan (menghilangkan) pada kedengkian atas perkara yang tidak ada fisiknya, Dan para fuqaha sekalipun mereka membatasi kedengkian pada hal-hal yang berhubungan.

 

ولكنهم يقولون : إن إزالـة الأمور المعنوية يقال لها : طهارة ، فالوضوء على الوضوء طهارة بهذا المعنى ، وههنا إيراد معروف ، وهـو أنه لا معنى لعـد الريح ، أو المباشرة الفاحشة بـدون إنزال مثلا من نواقض الوضوء ، ولا معنى لكـون المني يوجب الغسل .

 
Dan akan tetapi mereka mengatakan : sesungguhnya menghapus perkara yang tidak ada fisiknya, disebut : bersuci, Maka adapun wudhu untuk bersesuci dalam pengertian ini. Berikut adalah hasil yang di ketahui, yaitu tidak ada artinya mengenai angin (kentut), atau secara langsung kejelekan tanpa turun semisalnya dari yang membatalkan wudhu, Dan tidak ada artinya namun untuk keluar air mani diwajibkan mandi.

 

أما الأول : فلأن الريح ونـحـوه ليس بنجاسـة محسة .

 
Adapun yang pertama: karena angin (kentut) dan sejenisnya bukanlah najis yang memiliki wujud .

 

أمـا الثاني : فلأن المني طاهر ، وعلى فرض أنه نجس فلم تكن نجاسته أكثر من نجاسة البول . أو الغائط ، فالمعقـول أن تكون الطهارة منه مقصورة على غسل محله فقط .

 
Adapun yang kedua: Karena mani itu hukumnya suci, dan wajib bahwa untuk najis, maka najisnya tidak lebih banyak dari najisnya air kencing. atau buang air besar, maka wajar jika mensucikannya hanya sebatas membasuh tempatnya saja.

 

الجواب : أن قـائـل هـذا الكلام غـافل عن معنى العبـادة ، وغـافل عن معنى أمـارات العبادة ، لأن الغرض من العبـادة إنمـا هـو الخضـوع بـالقلب والجـوارح الله عز وجل على الوجه الذي يرسمه هو ، فلا يصح لأحد أن يخرج عن الحد الذي يحـده الله لعبادته ، ولا مصلحة للمخلوق في مناقشة أمارات العبـادة ورسومهـا إلا بمقدار مـا يمسه من نصب وإعيـاء ، فإن لـه الحق في طلب تكليفـه بما يـطيق ، أما مـا عدا ذلـك من كيفيات ورسـوم فإنهـا يجب أن تناط بـالمعبود وحده ، وهذه مسألة واضحة لا خفاء فيها ، حتى فيما جرت به العـادة من تعظيم الناس بعضهم بعضاً ، فإن الملوك لا يسألـون عن سبب الرسـوم التي يقابلون بهـا الناس ، مـا دامت غيـر شـاقـة .

 
Jawaban: Orang yang mengatakan ini tidak mengetahui arti ibadah, dan dia tidak mengetahui arti perintah ibadah, karena tujuan ibadah hanyalah penyerahan hati dan anggota badan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara yang digambarkan, maka tidaklah tepat untuk siapapun melenceng dari batasan yang telah Allah tetapkan untuk ibadahnya, dan tidak ada minat bagi makhluk didalam membahas tanda-tanda dan kewajiban-kewajiban ibadah kecuali sebatas kesulitan dan lelah yang melandanya, maka ia berhak didalam mencari tugas yang sesuai kemampuannya, adapun syarat-syarat dan harga lainnya harus percaya kepada tuhan saja, dan ini adalah masalah yang jelas dan tidak salah, bahkan saat Itu sudah menjadi kebiasaan orang-orang yang saling menghormati satu sama lain, maka raja-raja tidak menanyakan tentang alasan harga dengan siapa orang bertemu, asalkan tidak memberatkan.

 

فمتى قـال الشارع : لا تصلوا وأنتم محدثون حدثاً أصغـر أو أكبر ، فإنه يجب علينا أن نمتثـل بدون أن نقـول له : لماذا ؟ وإلا فيصح أن نقـول له : لماذا نصلي ؟ إذ لا فرق ، فإن كلا منهما عبادة له ، جعلها أمـارة من أمارات الخضوع إنما الذي يصح أن نقوله : وإذا لم نقدر على الوضـوء أو الغسـل أو الصلاة ، فماذا نفعل ؟ .

 
Maka kapan syariat disebutkan : Tidak diperbolehkan sholat seseorang yang sedang berhadas, baik hadas kecil maupun hadas besar. Maka bahwa wajib bagi kita agar mematuhinya tanpa mengatakan : Mengapa? dan kecuali, kita benar untuk mengatakan kepadanya: Mengapa kita sholat? ketika tidak ada perbedaan, karena keduanya beribadah, Dia menjadikannya salah satu tanda penyerahan diri, tetapi apa yang benar untuk dikatakan: Dan ketika tidak mampu berwudhu, mandi atau shalat. Jadi apa yang harus dilakukan?.

 

ولذا شرع لنا التيمم . والصلاة من قعود واضطجاع ونحو ذلك ممـا نقدر عليـه ، فالـذي من حقنا هـو الذي نسأل عنه ونناقش فيه ، والـذي يختص بالإلـه وحده نؤديـه بـدون منـاقشـة ، وهـذا بخلاف المعاملات . أو الأحوال الشخصية ، فإنها متعلقة بحياتنا ، فلنا الحق أن نعرف حكمة كل قضية ونناقش في كل جزئية .

 
Dan oleh karena itu ditetapkan tayamum bagi kita. Dan sholat keadaan duduk dan berbaring dan hal-hal lain yang kita mampu. Maka adalah hak kami untuk bertanya dan mendiskusikannya.

 

هذا هو الـرأي المعقول ، على أن بعض المفكرين من علماء المسلمين قـال : إن كل قضيـة من قضايا الشريعة لها حكمة معقولة وسـر واضح ، عـرفه من عـرفه وخفي على من خفي عليـه ، لا فرق في ذلك بين العبادات والمعاملات .

وقد أجاب عن الأول بأن الريح مستقذر حساً بدون نزاع ، وهو وإن لم يكن مرئياً بحاسة البصـر فهو مدرك بحاسة الشم ، وهو قبل أن يخرج مر على النجاسة الحسية .

على أن الذي يقـول : إن الريح لا ينقض وإن البول أو الغائط بوجبان غسل محلهما فقط .

يلزمه أن يقول : إن الإنسان لا يلزمه أن يتوضأ في حياته إلا مرة واحدة ، فإن النوم ليس بنجاسة ، والريح ليس بنجاسة ، والبول والغائط نجـاسة محليـة فقط ، ولا يخفى أن هذا الكلام فاسد لا قيمة له ، لأن الواقع أن الله قد شرع الوضوء لمنافع كثيـرة : منها ما هو محسّ مشاهد من تنظيف الأعضاء الظاهرة المعرضة للأقذار خصوصاً الفم والأنف .

ومنهـا ما هـو معنوي : وهر الامتثال والخضوع لله عز وجل فيشعـر المرء بعـظمة خـالقه دائماً ، فينتهي عن ا والمنكر ، وذلك خير له في الدنيا والآخرة ، فإذا كان الوضوء لا ينتقض فقد ضـاعت مشروعيتـه وضاعت الفحشاء فائدته .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar